Taliban Dapati Uang Rp92 M di Rumah Mantan Wapres Afghanistan

Nusantaratv.com - 17/09/2021 20:11:26

Wapres Afghanistan Amrullah Saleh. (Net)
Wapres Afghanistan Amrullah Saleh. (Net)

Penulis: Mochammad Rizki

Nusantaratv.com - Taliban mengaku menemukan uang tunai sebesar US$6,5 juta dolar (Rp92 miliar) di rumah mantan Wakil Presiden Afghanistan, Amrullah Saleh.

Uang ditemukan saat milisi Taliban melakukan operasi penggeledahan ke rumah Saleh di Lembah Panjshir.

Klaim Taliban muncul dalam sebuah rekaman video yang dirilis kelompok itu.

"Hari ini Mujahidin (anggota) kami mendapat US$6,5 juta dolar (Rp92 miliar) dan 18 koin emas dari rumah Amrullah Saleh. Kami akan mengembalikan uang itu ke Kementerian Keuangan," ujar seorang anggota Komisi Kebudayaan Taliban, Shahab Lewal, seperti dikutip TOLO News, Selasa (14/9/2021).

Sejauh ini Saleh belum memberi tanggapan terkait video tersebut.  Sejak Taliban mengklaim mengambil alih kekuasaan dari pemerintah Afghanistan pimpinan Ashraf Ghani pada 15 Agustus lalu, Saleh mendeklarasikan diri sebagai penjabat presiden sah negara itu.

Saleh kini bergabung dengan pasukan loyalis Ahmad Massoud yang dikenal dengan Pasukan Perlawanan Nasional (NRF) melawan Taliban dari Lembah Panjshir. Saleh sempat disebut kabur ke luar negeri saat Taliban mengklaim telah mengepung Lembah Panjshir.

Namun, melalui video, Saleh menegaskan bahwa dia masih bertahan di Panjshir.

Sementara itu, dalam video terpisah yang beredar luas di media sosial, seorang pria yang mengenakan seragam militer ditembak mati oleh anggota Taliban.

Eksekusi mati itu disebut terjadi di Lembah Panjshir, wilayah yang menjadi basis kelompok pimpinan Ahmad Massoud dan kini diklaim telah berhasil direbut dan dikuasai Taliban.

"Kondisi masyarakat di Panjshir mengkhawatirkan. Insiden itu harus diselidiki," kata salah satu warga Panjshir, Hashmatullah.

Seorang warga Panjshir yang lainnya, Naqibullah, menegaskan insiden tersebut harus diselidiki dan ditanggapi organisasi internasional.

"Ini adalah kejahatan," kata Naqibullah.

Namun, Taliban membantah pelaku dalam video itu merupakan anggotanya. Mereka mengatakan insiden itu akan diselidiki.

"Video dan foto seperti yang dipublikasi bertentangan dengan Taliban. Taliban telah membuktikan berkali-kali bahwa video ini berasal dari peristiwa sebelumnya atau bahkan dari negara lain," kata salah satu juru bicara Taluban, Abdulhaq Emad.

Kepala Komisi Hak Asasi Manusia Afghanistan juga telah meminta Taliban mengizinkan mereka menyelidiki dugaan warga sipil menjadi korban dalam pertempuran mereka di Lembah Panjshir.

Belakangan, tudingan kekerasan yang dilakukan milisi Taliban terhadap warga terus mencuat.

Anggota Taliban dilaporkan mencambuk sejumlah pedemo perempuan yang berdemonstrasi di Ibu Kota Kabul dan sekitarnya dalam beberapa pekan terakhir.

Beberapa demonstran bahkan dilaporkan tewas usai tembakan udara yang diluncurkan Taliban untuk membubarkan massa. Pengunjuk rasa yang lain juga banyak yang mengaku dipukul oleh milisi kelompok itu.

Taliban juga dilaporkan telah meluncurkan operasi razia ke rumah-rumah mantan pegawai negeri era pemerintahan Presiden Ashraf Ghani yang digulingkan, termasuk rumah-rumah mantan pejabat pemerintah.

Hal itu tak sejalan dengan janji Taliban sebelumnya yang bertekad akan memberikan pengampunan kepada mereka yang pernah bekerja dan mendukung pemerintah sebelumnya.

Sejauh ini, Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk HAM mengaku telah menerima banyak laporan soal pencarian terhadap mereka yang pernah bekerja dengan perusahaan dan pasukan keamanan asing, terutama Amerika Serikat. Beberapa staf juga mengatakan adanya peningkatan serangan dan ancaman dari Taliban.

PBB juga menerima laporan pembunuhan belasan mantan anggota militer Afghanistan oleh Taliban.

"Saya ulangi seruan saya kepada Dewan ini untuk mengambil tindakan berani dan kuat, sepadan dengan gawatnya krisis ini," kata Komisaris Tinggi HAM PBB, Michelle Bachelet, kepada Dewan HAM PBB di Jenewa seperti dikutip Reuters, Senin (13/9/2021).

0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in

Berita Terkait
Presiden Joko Widodo-1631954874
ISIS-1631790776