Anak 9 Tahun di Afghanistan Dijual untuk Dinikahi Pria 55 Tahun

Nusantaratv.com - 03/11/2021 07:18

Ilustrasi. (Net)
Ilustrasi. (Net)

Penulis: Mochammad Rizki

Nusantaratv.com - Di satu sudut desa di Afghanistan, seorang anak sembilan tahun, Parwana Malik, riang bermain dengan teman-temannya. Namun, senyum Parwana sirna ketika tiba di rumah dan mengingat keluarganya menjualnya untuk dinikahi karena krisis.

Di rumahnya, ia melihat satu sosok pria yang sudah menanti, siap membelinya. Pria itu mengaku berusia 55 tahun.

Namun bagi Parwana, pria itu hanya "laki-laki tua" dengan alis putih dan janggut panjang. Ketika bercerita kepada CNN, Parwana mengaku takut pria itu memukulinya dan memaksanya bekerja keras di rumah.

Parwana berharap ayahnya, Abdul Malik, berubah pikiran karena ia sangat ingin menjadi guru. Ia pun tak mau menghentikan studinya.

Namun, hari itu akhirnya datang juga. Tanggal 24 Oktober, pembeli Parwana, Qorban, datang ke rumahnya dan menyerahkan 200 ribu Afghani atau setara Rp 31,5 juta dalam bentuk sapi, tanah, dan tunai kepada Malik.

Qorban tak mau menyebut pembelian ini sebagai pernikahan karena ia sendiri sudah punya istri. Ia mengaku hanya akan merawat Parwana seperti anaknya sendiri.

"(Parwana) murah dan ayahnya sangat miskin dan butuh uang. Dia akan bekerja di rumah saya. Saya tak akan memukulinya. Saya akan merawatnya seperti anggota keluarga. Saya akan baik kepadanya," ucap Qorban.

Namun ketika menyerahkan Parwana, Malik terisak dan berkata, "Ini pengantin Anda. Tolong jaga dia. Anak bertanggung jawab atas dia sekarang. Tolong jangan pukuli dia."

Qorban sepakat. Ia langsung menggandeng Parwana dan membawa anak itu keluar rumah. Parwana sempat meronta, tapi tak berdaya karena Qorban menariknya masuk ke dalam mobil yang sudah menanti.

Di dalam rumah, Malik menangis. Ia mengaku tak punya pilihan lain.

Empat tahun sudah keluarganya hidup di kompleks kamp penampungan pengungsi di Provinsi Badghis, bergantung pada bantuan kemanusiaan dan kerja serabutan dengan upah hanya beberapa dollar sehari.
Kehidupan mereka kian merana ketika Taliban mengambil alih kekuasaan pada 15 Agustus lalu. Karena bantuan internasional berkurang drastis, Afghanistan terperosok ke jurang krisis ekonomi.

Imbasnya, keluarga Parwana tak dapat membeli kebutuhan pokok, bahkan sekadar makanan sehari-hari. Ayah Parwana, Abdul Malik, akhirnya memutuskan untuk menjual buah hatinya itu.

Menjelang penjualan anaknya, Malik mengaku tidak dapat tidur. Ia kalut. Berbagai perasaan berkecamuk, mulai dari patah hati, merasa bersalah, malu, dan khawatir.

Ia sebenarnya sudah berupaya sekeras mungkin agar tak harus menjual Parwana. Ia mengembara berkeliling Ibu Kota Provinsi Badghis, Qala e-Naw, untuk mencari pekerjaan, tapi tak pernah dapat.

Pada akhirnya, Malik malah harus meminjam "banyak uang" dari kerabatnya. Istrinya juga terpaksa mengemis makanan ke pengungsi lain.

"Anggota keluarga kami ada delapan. Saya harus menjual salah satunya untuk menyelamatkan nyawa anggota lain," tutur Malik.

Dengan menjual Parwana, keluarga Malik setidaknya dapat hidup dalam beberapa bulan. Di jeda waktu tersebut, Malik harus mencari solusi lain agar keluarganya dapat hidup.

Parwana hanya satu dari banyak gadis Afghanistan lain yang dijual untuk dinikahi di tengah krisis berkepanjangan di negara itu.

Meski usia pernikahan legal di Afghanistan setidaknya 15 tahun. Namun, penjualan anak seperti ini sudah biasa terjadi di Afghanistan sejak dulu.

Aktivis hak asasi manusia di Badghis, Mohammad Naiem Nazem, mengatakan bahwa jumlah penjualan anak ini meningkat sejak Agustus lalu karena kelaparan yang semakin parah.

Berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa pekan lalu, lebih dari setengah populasi Afghanistan mengalami kekurangan makanan akut.

Lebih dari 3 juta anak di bawah 5 tahun diperkirakan mengalami malnutrisi dalam beberapa bulan ke depan. Sementara itu, harga pangan terus naik, dan bank-bank kekurangan uang.

"Setiap hari, jumlah keluarga yang menjual anaknya terus bertambah. Kekurangan makanan dan lapangan pekerjaan membuat para keluarganya itu harus melakukan praktik ini," kata Nazem. Demikian dikutip dari CNNIndonesia.com. 

0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in