"Sinis" Sama Drakor

Nusantaratv.com - 18/06/2022 09:47

Twenty Five Twenty One menjadi salah satu drakor rating tertinggi di minggu keempat bulan Maret tahun 2022. Drakor romantis ini bersaing dengan A Business Proposal hingga Thirty Nine/net
Twenty Five Twenty One menjadi salah satu drakor rating tertinggi di minggu keempat bulan Maret tahun 2022. Drakor romantis ini bersaing dengan A Business Proposal hingga Thirty Nine/net

Penulis: Alamsyah

Nusantaratv.com - Kamu generasi milenial? Ayo jujur, pasti akan nonton Drakor daripada sinetron kan!

Fakta generasi milenial lebih memilih menonton Drama Korea (Drakor) daripada sinetron, sering saya dapati ketika berada di halte dan di dalam moda transportasi umum TransJakarta.

Saat menunggu kedatangan TransJakarta di sejumlah halte di ibukota ini, sering sekali saya memergoki kamu lagi nonton Drakor di HP kamu. Begitu juga ketika TransJakarta merangkak, sepanjang jalan HP kamu masih saja memutar Drakor. Kamu baru berhenti nonton Drakor setelah sampai tujuan, kan.

Saya yakin fenomena itu bukan saja ada di TransJakarta, di KRL, area publik dan lainnya, pasti generasi milenial lebih suka nonton Drakor daripada sinetron.

Tentang fanatisme menonton Drakor daripada sinetron, memang beberapa orang bahkan lembaga, sudah cukup banyak melakukan pengkajian baik secara akademis, formal bahkan komperehensif.

Bahkan sekelas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menurunkan hasil kajiannya lewat sebuah artikel yang dimuat di laman mereka, psdr.lipi.go.id.

Disini LIPI mengupas soal penonton Drakor yang didominasi perempuan, walau ada juga laki-laki yang ikut menyaksikan Drakor ini.

Dominasi perempuan dalam menonton sebuah tayangan televisi, dituliskan dalam Family Television: Cultural Power and Domestic Leisure (1986), Morley menunjukkan perbedaan preferensi program televisi antara laki-laki dan perempuan. Menurut Morley, perempuan menyukai program fiksi seperti opera sabun dan drama, sementara laki-laki lebih memilih program berita dan olahraga.

Kembali ke fakta yang saya dapat. Memang, dari banyak generasi milenial yang nonton drakor di area publik, saya lihat adalah kalangan perempuan. Pernah begitu, beberapa kali saya tak sengaja melihat laki-laki juga ada yang nonton drakor.

Ketika generasi milineal, khususnya yang tinggal di Jakarta serta di daerah penyanggahnya diketahui lebih menyukai nonton drakor ketimbang sinetron, saya jadi bertanya, kok bisa ya jadi begitu?

Untuk menjawab pertanyaan itu saya tentunya memerlukan analisa yang kuat dari sejumlah praktisi sinema atau paling tidak mereka yang memiliki fokus dalam bidang ini.

Saya lalu mendapatkan analisa dari seorang Profesor studi Asia-Amerika Universitas Northwestern bernama Ji-Yeon yuh. Dia menganalisa kenapa orang suka sama Drakor.

Pertama dia mengatakan karena kehadiran teknologi streaming yang saat ini begitu masif. Namun sang profesor juga melihat bahwa ada sisi estetika dari drakor itu sendiri. Dia mengatakan bahwa disini ada kombinasi yang kuat antara nilai-nilai tradisional Korea dengan teknologi modern.

"Drama Korea menawarkan versi masyarakat yang memegang tradisi dan nilai-nilai tradisional, sambil bergerak maju sebagai masyarakat berkembang yang maju secara ekonomi," kata Yuh sebagaimana artikel pada laman cnnindonesia edisi 12 April 2020.

Jika sang profesor lebih menekankan pada kombinasi sisi tradisional Korea dengan teknologi modern, psikolog asal Indonesia bernama Mira Amir mempunyai analisa sendiri.

Dia menyebut kenapa orang suka sama Drakor karena pemainnya yang cakep sehingga mampu membangkitkan hormon.

"Biasanya yang paling mudah, apa yang disaksikan orang dari drama Korea karena pemainnya cakap, suasananya dibangun menyenangkan, dan itu mengaktifkan stimulasi ke hormonnya," kata Mira, masih di laman yang sama.

Dari analisa kedua ahli tadi, saya mencoba untuk membuat analisa sendiri terkait Drakor ini. Namun dalam konteks ini saya akan membandingkan dengan sinetron Indonesia.

Jika disebutkan tadi kenapa Drakor disukai banyak orang karena teknologi streaming yang semakin masif, mengapa sinetron Indonesia yang juga bisa disaksikan secara streaming tidak begitu sukses seperti Drakor?

Artinya disini ada faktor lain yang menyebabkan orang lebih menonton Drakor daripada sinetron Indonesia melalui teknologi streaming.

Analisa saya begini. Boleh jadi generasi milenial merasa tidak mengikuti trends jika tak menonton Drakor. Sedangkan kalau menonton sinetron Indonesia lewat streaming, mungkin mereka memiliki rasa malu, sebab sinetron Indonesia sendiri kadung diidentifikasikan milik "emak-emak".

Begitu pula dengan analisa psikolog Mira Amir yang menekankan faktor "tampang" yang menjadi salah satu alasan Drakor digemari banyak orang Indonesia.

Lantas saya membandingkan dengan sinetron Indonesia terkait analisa Mira Amir tadi. Siapa pun pasti setuju bahwa "tampang" para pemain sinetron Indonesia tak kalah ganteng atau cantiknya dengan para pemain Drakor.

Sementara jika alasan Drakor disebutkan lebih beragam memiliki tema, sekarang apa yang kurang dari tema sinetron Indonesia?

Mau yang komedi, percintaan, Keluarga, kerajaan, kejahatan, horor seperti tema-tema Drakor? sinetron Indonesia juga punya kok.

Namun lagi-lagi, walaupun bisa disebutkan sinetron Indonesia seperti "Ikatan Cinta" itu katanya digandrungi betul, toh tetap saja yang ada di hati generasi milenial saat ini ya Drakor.

Sejak awal kita sudah memposisikan bahwa sinetron Indonesia adalah tontonan yang menjual mimpi. Apa bedanya kemudian dengan Drakor. Apakah Drakor tidak menjual mimpi?

Sejak dulu kita sudah memposisikan sinetron Indonesia milik "emak-emak. Padahal Drakor yang Juga ditonton "emak-emak, tetap tidak mendapatkan klaim bahwa itu tontonan "emak-emak."

Kita tak adil dalam memposisikan baik itu Drakor dan sinetron Indonesia sebagai sama-sama tontonan.

Dari situ saya menduga bahwa ada segelintir orang yang memang membuat paradigma semacam itu. Artinya, jika dilihat secara industrinya, mereka yang membangun paradigma tersebut memang sedang mencari keuntungan dibalik Drakor tersebut.

Hasilnya pun sudah jelas ada bagaimana industri ini sudah masuk ke Indonesia melalui sejumlah SDM serta infrastruktur penunjangnya.

Masuknya Netflix serta platform pemutar Drakor ke tanah air juga disertai dengan masuknya rumah-rumah produksi negeri Ginseng itu ke Indonesia.

Ketika industri Drakor sudah menguasi generasi milenial, Mereka yang tadi membangun paradigma bahwa sinetron Indonesia milik "emak-emak", kemudian membangun lagi paradigma bahwa masuknya Drakor sangat baik untuk persaingan agar sineas kita terpicu.

Ya tidak mengapa paradigma itu dibangun. Tetapi mengapa harus dibandingkan sama Drakor? Bukankah selain Drakor masih ada drama Turki, Jepang, Amerika Latin, Asia seperti Jepang, Thailand dan lainnya.

Mengapa Drakor ini seperti menjadi satu-satunya drama yang paling populer di dunia?

Tanpa menyebut Drakor apa yang kata generasi milenial bisa bikin hati mereka diaduk-diaduk, apakah mereka berpikir jika menonton buatan negara sendiri itu bisa menumbuhkan industri sinema di tanah air, khususnya sinetron tersebut? Saya rasa belum muncul pikiran semacam itu.

Yang ada mereka malah sinis kepada sinetron milik sendiri.

Tapi kalau saya bukan sinis sama Drakor, makanya saya tulis artikel ini dengan judul "Sinis" sama Drakor. Sinis saya ini maksudnya Sinetron Indonesia. Ya, semoga saja ini bisa menjadi singkatan baru untuk Sinetron Indonesia yang disukai "emak-emak" tetapi tidak untuk generasi milenial.

0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in

Berita Terkait
Presiden Joko Widodo di KTT G20. (©Setpres RI)-1655867161
Rara Istiati Wulandari-1655449422
Cerobong asap Pabrik-1655353546
Candi Borobudur-1655131638