Pencemaran Udara dan Lingkungan Hidup

Nusantaratv.com - 16/06/2022 11:27

Asap yang dikeluarkan dari kegiatan industri memiliki andil untuk terjadinya pencemaran udara.
Asap yang dikeluarkan dari kegiatan industri memiliki andil untuk terjadinya pencemaran udara.

Penulis: Rafli Dwidani Setyawan | Editor: Supriyanto

Nusantaratv.com - Sebagai makhluk ciptaan paling sempurna di muka bumi, manusia telah diberi amanah oleh sang Pencipta untuk menjaga, merawat, dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya. Kerusakan lingkungan atau pencemaran lingkungan baik karena ulah manusia ataupun karena bencana Alam, semua menjadi tanggungjawab manusia untuk memperbaikinya.

Udara adalah salah satu elemen yang sangat penting sebagai penunjang kehidupan semua mahluk. Bisa dibayangkan bagaimana jika di dunia ini tidak ada sedikit saja, maka semua akan mati karena tidak bisa bernafas.

Salah satu elemen di udara yang dibutuhkan manusia adalah oksigen (O2). Tidak ada seorang pun yang bisa hidup tanpa oksigen. Kita harus bersyukur bahwa Tuhan telah menyediakan oksigen begitu banyak di udara. Kita dapat menikmatinya setiap saat secara gratis. Coba bayangkan kalau kita harus beli oksigen untuk kehidupan kita, tentu akan begitu besar biaya yang harus kita keluarkan untuk itu.

Penghasil oksigen terbesar adalah hutan. Pohon menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis yang menyuplai energi melalui cahaya matahari, CO2, dan air diserap kedalam tanah melalui akar. CO2 + H2O + matahari akan menghasilkan glukosa (C6H12O6) dan oksigen (O2). Sementara oksigen dibutuhkan untuk bernapas, glukosa sendiri adalah zat gula yang jadi sumber pangan bagi makhluk hidup.  

Dikutip dari forestdigest.com, hingga 5 Desember 2020, jumlah pohon yang ditanam di seluruh permukaan bumi sebanyak 13,94 miliar pohon. Nah, coba kita ambil contoh, pohon sonokeling (Dalbergia latifolia) setinggi 10 meter bisa menghasilkan oksigen 207,33 kilogram per hari. Sementara satu pohon akasia menghasilkan oksigen 143,33 kilogram sehari. Maka, dengan asumsi kebutuhan dan produksi oksigen itu, satu pohon sonokeling sanggup menyuplai oksigen untuk 177-239 orang dan akasia 122-165 orang sehari. Kalo dihitung-hitung sih bakal rumit, ya. Tapi ini adalah insight berarti untuk membuktikan betapa satu pohon bisa ngasih kehidupan buat makhluk di sekitarnya. 

Jika terjadi pencemaran udara, di mana kualitas udara menjadi rusak dan terkontaminasi oleh zat-zat, baik yang tidak berbahaya maupun yang membahayakan, akan mengganggu kesehatan manusia dan lingkungannya. Contohnya saja saat terjadi Pandemi Covid-19, semua orang diwajibkan menggunakan masker dikarenakan udara telah tercemar oleh virus corona akibatnya kalau sampai terhisap dan masuk ke dalam paru-paru, kesehatan kita akan terganggu.

Di dunia, dikenal ada 6 jenis zat pencemar udara yang berasal dari kegiatan manusia, yaitu Karbon Monoksida (CO), Oksida Sulfur (SOx), Oksida Nitrogen (NOx), partikulat, hidrokarbon (HC), dan Oksida fotokimia, termasuk ozon. Untuk Indonesia, kurang lebih 70% pencemaran udara disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor. 

Substansi pencemar yang terdapat di udara dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernafasan. Partikulat berukuran besar dapat tertahan di saluran pernapasan bagian atas, sedangkan partikulat berukuran kecil dan gas dapat mencapai paru-paru. Dari paru-paru, zat pencemar diserap oleh sistem peredaran darah Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), termasuk di antaranya, asma, bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya.

Pencemaran udara juga dapat berakibat munculnya Hujan Asam. PH normal air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain: 

  Mempengaruhi kualitas air permukaan
  Merusak tanaman
  Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan

Efek Rumah Kaca 
Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan udara kita, sebenarnya keberadaan zat-zat ini di lapisan udara menguntungkan, yaitu untuk menghalangi pemantulan panas dari bumi ke luar angkasa, karena panas terhalangi maka udara di bumi siangnya tidak terlalu panas dan malamnya tidak terlalu dingin. Namun zat-zat ini disebut menguntungkan jika keberadaannya di udara tidak terlalu banyak, tapi fakta terkini, jumlah CO2, CFC, N2O di udara sangat banyak dikarenakan gaya hidup manusia. Karena jumlahnya yang begitu banyak maka jumlah sinar matahari yang masuk ke bumi hanya sedikit yang di pantulkan kembali ke luar angkasa akibatnya suhu bumi naik, kalau kita analogikan jumlah sinar matahari yang masuk 100 maka yang di pantulkan cuma 30, 70 nya lagi tetap berada di bumi. Suhu bumi yang naik ini lah yang di sebut dengan fenomen global warming (pemanasan global). Dampak dari pemanasan global adalah:

  Pencairan es di kutub
  Naiknya permukaan air laut
  Perubahan iklim regional dan global
  Perubahan siklus hidup flora dan fauna
  Tenggelamnya kota-kota di tepi laut

Kerusakan lapisan ozon 
Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km) merupakan pelindung alami bumi yang berfungsi memfilter radiasi ultra violet B dari matahari. Pembentukan dan penguraian molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer. Emisi CFC yang mencapai stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya, sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon. Kerusakan lapisan ozon menyebabkan sinar UV-B matahari tidak terfilter dan dapat mengakibatkan kanker kulit serta penyakit pada tanaman. 

Dari data di atas, kerusakan lingkungan di udara berdampak begitu besar bagi kehidupan manusia. Setiap individu harus bertanggungjawab turut menjaga dan merawat lingkungan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar hasilnya positif bagi keberlangsungan hidup bagi generasi kini dan nanti. 

Selain di udara, kerusakan lingkungan di bumi juga dapat terjadi akibat ulah manusia yang dilakukan secara sengaja maupun tanpa sengaja. Kegiatan manusia yang semakin komplek juga akan dibarengi dengan banyaknya limbah yang dihasilkan yang dapat menimbulkan pencemaran ataupun kerusakan lingkungan.

1. Pembukaan Lahan untuk Pemukiman 
Dari data WHO, jumlah populasi manusia di dunia tahun 2022 ada 7,8 miliar jiwa, sehingga diperlukan lahan pemukiman yang semakin besar. Dalam beberapa tahun belakangan ini banyak hutan yang berubah fungsi menjadi pemukiman karena setiap manusia butuh tempat tinggal. Penebangan pohon secara besar-besaran sebaiknya dibarengi dengan penanaman kembali agar bumi tidak semakin gersang, disamping itu agar bencana banjir dan longsor tidak terjadi. 

2. Membuang sampah sembarangan
Kepadatan penduduk di kota-kota besar berakibat pula pada banyaknya sampah rumah tangga dan industri. Fenomena yang terjadi di kota-kota besar adalah keterbatasan lahan untuk menampung sampah, tak sedikit warga membuang limbah rumah tangganya ke sungai. Kesadaran diri untuk disiplin membuang sampah pada tempatnya wajib teru digalakkan. Saat musim turun hujan serng terjad banjir akibat  saluran air tertutup sampah. 

3. Asap dari Knalpot Kendaraan Sebabkan Polusi Udara
Jumlah kendaraan yang terus bertambah setiap tahun berandil besar terhadap terjadinya polusi udara. Kebijakan pemberlakuan ganjil genap sebagai salah satu upaya pemerintah mengurai kemacetan dan mengurangi polusi udara.

Dikutip dari pollutiononmyearth.weebly.com, disebutkan bahwa kendaraan bermotor mengeluarkan zat-zat berbahaya yang dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap kesehatan manusia maupun terhadap lingkungan, seperti timbal/timah hitam (Pb), oksida nitrogen (NOx), hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO), dan oksida fotokimia (Ox). Kendaraan bermotor menyumbang hampir 100% timbal, 13-44% suspended particulate matter (SPM), 71-89% hidrokarbon, 34-73% NOx, dan hampir seluruh karbon monoksida (CO) ke udara. Sumber utama debu berasal dari pembakaran sampah rumah tangga, di mana mencakup 41% dari sumber debu.
Namun seiring kemajuan teknologi, banyak negara mulai memproduksi mobil listrik yang ramah lingkungan. Sehingga diharapkan keberadaan mobil listrik nantinya dapat mengurangi polusi udara.

4. Penggunaan Plastik 
Limbah plastik sulit untuk diurai, konon katanya sampah plastik baru bisa terurai setelah 1000 tahun lamanya. Banyak orang masih menggunakan plastik dikarenakan dianggap lebih praktis untuk mengemas barang. Karena sulit diurai, limbah plastik dapat merusak tanah. 

5. Pembuangan Limbah Industri ke Sungai 
Banyak kegiatan industri yang membuang limbahnya ke sungai. Zat kimia yang terdapat pada limbah tersebut dapat merusak lingkungan dan akan mengganggu ekosistem hayati yang ada di sungai maupun lingkungan sekitarnya. Selain itu limbah-limbah tersebut akan menimbulkan bau dan perubahan warna pada air sungai, sehingga air sungai tidak dapat dikonsumsi atau digunakan untuk keperluan sehari-hari. 

Diperlukan langkah besar untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan. Selain itu, kesadaran bersama akan kebutuhan lingkungan yang sehat dan bersih harus dimiliki setiap individu. Tidak hanya pemerintah, masyarakat juga wajib ikut peduli memperbaiki dan menjaga lingkungannya agar tetap bersih demi kehidupan sehat sekarang dan masa depan. (Penulis adalah mahasiswa semester 6, Jurusan Hubungan Internasional/ Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi Bandung Jawa Barat). 

 

0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in

Berita Terkait
Presiden Joko Widodo di KTT G20. (©Setpres RI)-1655867161
Drakor Twenty Five Twenty One-1655520642
Rara Istiati Wulandari-1655449422
Candi Borobudur-1655131638