Ayam KFC Indonesia Dinilai Tak Sejahtera, Maksudnya?

Nusantaratv.com - 24/11/2021 14:32

World Animal Protection.
World Animal Protection.

Penulis: Mochammad Rizki

Nusantaratv.com - Perusahaan restoran cepat saji Kentucky Fried Chicken (KFC) Indonesia diprotes. Penyebabnya, mereka dianggap tak memberikan kesejahteraan yang baik bagi ayam yang mereka jual, semasa hidup.

Protes melalui surat terbuka ini, disampaikan World Animal Protection. Ini juga dalam rangka peringatan Hari Kesadaran Penggunaan Antibiotik Sedunia.

"Jutaan ayam tidak pernah mendapat kesempatan untuk melihat sinar matahari, tumbuh pada tingkat alami atau berperilaku seperti yang mereka lakukan di alam liar. KFC Indonesia mendapat untung dari rasa sakit ini," ujar Manajer Kampanye di World Animal Protection Rully Prayoga, kepada wartawan, Rabu (24/11/2021).

“Banyak yang menderita ketimpangan dan lesi kulit. Metode peternakan intensif juga sering mengandalkan penggunaan antibiotik rutin sebagai solusi cepat untuk menjaga hewan yang stres dan sakit tetap hidup," imbuhnya.

Selain itu, kata Rully penggunaan antibiotik yang berlebihan pada ayam ini memicu krisis superbug mematikan, yang membunuh lebih dari 700.000 orang per tahun dan terus meningkat. Ini berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Penyakit resistensi antibiotik inilah yang juga diidap artis Nadia Vega.

"Tidak hanya ayam-ayam ini yang menderita, kesehatan manusia juga terancam. Pergeseran ke sistem pertanian dengan kesejahteraan yang lebih tinggi menggunakan breed ayam yang tumbuh lebih lambat akan mengurangi kebutuhan akan antibiotik," tuturnya.

Kepala Kampanye Global di World Animal Protection Jonty Whittleton menambahkan, banyak restoran dengan nama atau merek terkenal menolak memberikan miliaran ayam kesempatan untuk melihat sinar matahari dan tumbuh pada tingkat yang sehat atau berperilaku secara alami.

"Covid-19 telah mengajarkan kita bahwa kesejahteraan hewan dan kesehatan manusia saling terkait, tidak boleh ada bisnis seperti biasa. Motif komersial mendorong kekejaman dan penderitaan, dan ini harus diakhiri," ujarnya.

Menurut Rully, persoalan ini sudah pernah disampaikan World Animal Protection pada tahun 2020 lalu kepada KFC Indonesia. Namun, hingga kini tak juga tuntas.

"Diskusi pada 2020 dengan kami, ketika kami tanya jawabannya klise, 'kami sudah mengikuti regulasi'. Regulasi yang mana? Declare dong, kriteria yang sudah diikuti," kata dia.

Pihaknya menduga, tak kunjung membaiknya kesejahteraan ayam yang dijual KFC Indonesia, lantaran perusahaan itu dinilai tak menganggap penting perkara ini. Perusahaan, disinyalir hanya mengutamakan produknya agar laku, tanpa berupaya meningkatkan kualitasnya.

"Kemudian, ada kemungkinan juga mendapatkan supply dari peternakan yang low, rendah tingkat kesejahteraan hewannya. Makanya dia nggak berani. Meskipun mereka selalu klaim, 'kami berasal dari ini kok, kami baik kok'. Kalau baik kita kejar, bikin iklan di mana dia ambil ayamnya. Kita juga senang lihatnya kalau ayam yang kita makan berasal dari peternakan berkualitas," paparnya.

Peningkatan kesejahteraan ayam oleh KFC Indonesia, kata Rully sudah sepatutnya dilakukan. Sebab kebijakan ini sudah dijalankan KFC Amerika Serikat (AS) atau perusahaan induk KFC, Yum! Brands melalui kampanye better chicken commitment. Serta dilakukan KFC Eropa dimana Inggris di dalamnya dan bahkan, KFC Thailand ikut serta, dan saat ini tengah berproses.

Rully mengakui, KFC Indonesia bukanlah pemilik peternakan ayam tersebut, sehingga tak memiliki kewenangan secara langsung. Namun, perusahaan itu memiliki peran dalam memilih produsen daging ayam mana yang bisa memasok ke KFC Indonesia.

"KFC itu mampu dan dia bisa, dia kan hanya pihak yang menerima produk. Dia bisa saja 'saya hanya mau menerima produk dari peternakan kriteria seperti ini'," tuturnya.

"KFC itu mempunyai kewenangan untuk memilih supplier-nya. 'Ok saya memilih supplier yang memiliki kesadaran terhadap kesejahteraan yang tinggi'," imbuh Rully.

World Animal Protection menegaskan, peningkatan kesejahteraan ayam ini justru menguntungkan KFC Indonesia maupun peternak, bukan malah sebaliknya. Sebab dengan begitu KFC bisa mempromosikan produknya berasal dari bahan terbaik, sehingga meningkatkan kepercayaan konsumen dan menambah nilai produk.

Sementara peternak, tak menggunakan antibiotik disebut Rully justru menguntungkan buat mereka.

Di sisi lain, survei yang mereka lakukan pada 2019, menunjukkan konsumen tak masalah membayar lebih saat mengonsumsi ayam dengan kesejahteraan yang lebih baik.

"Peternak yang untung itu, kandang bersih, populasi ayam tidak terlalu padat, tidak menggunakan antibiotik, mereka menggunakan probiotik," tuturnya.

"Menjaga ayam itu tidak sakit, dari umur 1 hari sampai 6 minggu. Padahal itu nggak usah, kalau kandangnya bagus. Ayam mati karena kebanyakan kena penyakit cekrek. Karena padat, karena amonia atau kotorannya itu tak diurusi," lanjut Rully.

World Animal Protection sendiri berharap KFC Indonesia dapat menggunakan keturunan ayam yang tumbuh pada tingkat yang lebih sehat. Kemudian memastikan ayam memiliki ruang untuk berperilaku lebih alami, dan kandang tidak boleh digunakan.

Lalu, memberikan ayam kesempatan untuk menikmati perilaku alami melalui pengayaan, termasuk tempat bertengger atau platform dan objek mematuk, pencahayaan alami dan tempat tidur berkualitas tinggi. Serta memastikan bahwa ayam disembelih dengan cara yang lebih manusiawi yang menghindari belenggu hidup, dan membuat semua hewan pingsan sebelum disembelih.

World Animal Protection menegaskan, bahwa apa yang mereka harapkan ini merupakan opsi. Jika KFC Indonesia memilih untuk menjalankannya tentunya baik, sementara jika tidak, bagi mereka tak masalah. Namun tentunya ini bisa mempengaruhi persepsi publik yang perlahan mulai sadar akan perlunya kesejahteraan pada hewan, termasuk ayam-ayam yang diperjual-belikan KFC Indonesia.

"Kami tidak anti KFC, tapi kita meminta KFC lebih baik," tandas Rully.

0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in