Transjakarta Kebut Elektrifikasi Armada, Welfizon Yuza: Target 100 Persen Bus Listrik pada 2030

Transjakarta Kebut Elektrifikasi Armada, Welfizon Yuza: Target 100 Persen Bus Listrik pada 2030

Nusantaratv.com - 12 Februari 2026

Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), Welfizon Yuza dan Ibu Preskom NT Corp Lince Berliana Tobing (Dok NTVNews.id: Dedi)
Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), Welfizon Yuza dan Ibu Preskom NT Corp Lince Berliana Tobing (Dok NTVNews.id: Dedi)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), Welfizon Yuza, menegaskan komitmen perusahaan dalam mempercepat transisi menuju transportasi publik berbasis listrik. Dalam forum Nature 2026 di Nusantara Ballroom NT Tower, Kamis (12/2/2026), Welfizon menyampaikan bahwa Transjakarta menargetkan seluruh armadanya beralih ke bus listrik pada 2030.

“Setiap pengadaan unit baru, kami pastikan berbasis listrik. Harapannya pada 2030, 100 persen armada Transjakarta sudah menggunakan kendaraan listrik,” ujar Welfizon.

Menurut Welfizon, elektrifikasi armada bukan sekadar program penggantian kendaraan, melainkan bagian dari pilar utama transformasi Transjakarta. Langkah ini sekaligus mendukung target pemerintah menuju net zero emission pada 2050.

Ia menekankan, keberhasilan transportasi publik tak hanya diukur dari sisi operasional, tetapi juga dari kontribusinya terhadap penurunan emisi dan peningkatan kualitas lingkungan perkotaan.

“Tugas pertama kami adalah meningkatkan jumlah pengguna transportasi publik. Bersamaan dengan itu, kami paketkan dengan elektrifikasi armada agar dampaknya ganda, menekan emisi sekaligus mendorong peralihan masyarakat dari kendaraan pribadi,” jelasnya.

Welfizon mengakui, empat tahun awal implementasi bus listrik menjadi fase pembelajaran besar bagi Transjakarta. Salah satu tantangan utama adalah infrastruktur pengisian daya.

Saat ini, pengisian daya masih banyak mengandalkan pola overnight charging di depo. Bus diisi penuh pada malam hari, umumnya dalam rentang waktu pukul 23.00 hingga 04.00 WIB, untuk kemudian beroperasi sepanjang hari.

Konsekuensinya, kapasitas baterai harus besar agar mampu menunjang operasional harian. Hal ini berdampak pada tingginya investasi awal. Selain itu, stasiun pengisian daya di depo hanya termanfaatkan sekitar lima jam per hari, sehingga tingkat utilisasinya relatif rendah.

“Dari lesson learned ini, kami mendorong percepatan pembangunan infrastruktur charging agar ke depan bisa menggunakan pola opportunity charging, misalnya pengisian 5–10 menit di terminal akhir. Dengan begitu operasional lebih fleksibel dan efisien,” paparnya.

Welfizon menegaskan, percepatan elektrifikasi tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi seluruh ekosistem, mulai dari penyedia listrik, regulator, hingga pelaku industri pendukung.

Ia menilai, konsistensi kebijakan dan kepastian regulasi menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor dan mempercepat pengembangan infrastruktur pendukung kendaraan listrik.

“Kalau kita bicara green economy dan standar ESG, maka bukan hanya armadanya yang hijau, tetapi ekosistemnya juga harus siap. Stabilitas kebijakan dan sinkronisasi regulasi sangat menentukan,” katanya.

Dengan komitmen penuh menuju 2030, Transjakarta diproyeksikan menjadi salah satu operator transportasi publik dengan armada listrik terbesar di kawasan. Langkah ini diharapkan memberi efek berantai, mulai dari penurunan emisi karbon di Jakarta hingga mendorong tumbuhnya industri kendaraan listrik nasional.

“Ini bukan hanya soal mengganti bus, tetapi transformasi sistem transportasi kota menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan,” tutup Welfizon.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close