NATURE 2026: Menjaga Alam, Menggerakan Ekonomi: Arah Baru Pembangunan Berkelanjutan Indonesia

NATURE 2026: Menjaga Alam, Menggerakan Ekonomi: Arah Baru Pembangunan Berkelanjutan Indonesia

Nusantaratv.com - 12 Februari 2026

Hashim Djojohadikusumo menerima penghargaan NATURE Award 2026 yang diserahkan langsung oleh Presiden Komisaris NT Corp dan Nurdin Tampubolon (NTVNews.id: Dedi)
Hashim Djojohadikusumo menerima penghargaan NATURE Award 2026 yang diserahkan langsung oleh Presiden Komisaris NT Corp dan Nurdin Tampubolon (NTVNews.id: Dedi)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Indonesia tengah berada dipersimpangan penting antara tuntutan pertumbuhan ekonomi dan kewajiban menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Tahun 2026 ditandai dengan meningkatnya tantangan perubahan Iklim, tekanan pada ekosistem, transisi energi yang belum merata, hingga krisis pengelolaan sampah dan kebutuhan pembiayaan hijau yang semakin besar.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan komitmen terhadap ekonomi hijau melalui revisi perpres karbon (Perpres 110 Tahun 2025), penguatan pasar karbon nasional, serta dorongan investasi energi bersih sejalan dengan Visi Asta Cita.

Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi pekerjaan besar: ketergantungan pada energi fosil, deforestasi, rendahnya literasi publik terkait ekonomi hijau, kebutuhan Investasi Infrastruktur Ebt, hingga ketimpangan implementasi kebijakan di daerah.

Untuk menjawab tantangan tersebut, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, inovasi teknologi, reformasi kebijakan, serta peran strategis dunia usaha dan BUMN dalam mempercepat ekosistem ekonomi hijau.

Nusantara Sustainability Trend Forum (NATURE) 2026 hadir Sebagai Platform Strategis Untuk Memperkuat Arah Pembangunan Berkelanjutan Indonesia: Menjaga Alam Sekaligus Menggerakkan Ekonomi.

Direktur Nusantara TV, Dimpos Tampubolon

Direktur Nusantara TV, Dimpos Tampubolon menekankan bahwa sustainability bukan lagi isu tambahan, melainkan strategi ekonomi terintegrasi.

“Dunia kini bergerak ke arah ekonomi hijau. Sustainability bukan lagi isu tambahan, ini adalah strategi ekonomi yang terintegrasi. Negara yang mampu menjaga stabilitas lingkungan dan mengelola risiko iklim dengan baik akan memiliki daya saing yang lebih kuat,” ujar Dimpos.

Ia juga menyoroti dampak nyata perubahan iklim yang dirasakan Indonesia, termasuk banjir besar di Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada November 2025 akibat hujan ekstrem selama tiga hari tiga malam.

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo hadir menjadi Keynote Speker. Hashim menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat perlindungan lingkungan hidup dan konservasi hutan.

Dalam paparannya, Hashim menyebut Pemerintah mengalokasikan Rp2 triliun dari APBN untuk konservasi Taman Nasional Way Kambas di Lampung.

“Ini uang kita semua, uang rakyat dari APBN, bukan bantuan luar negeri. Digunakan untuk menjaga kawasan konservasi yang penting bagi gajah, harimau, dan keanekaragaman hayati,” ujar Hashim.

Selain itu, pemerintah akan meningkatkan jumlah polisi hutan dari sekitar 5.000 menjadi 70.000 personel untuk menjaga 57 taman nasional di Indonesia.

“Selama ini hanya sekitar 5.000 petugas menjaga kawasan yang sangat luas. Itu sangat kurang. Presiden sudah memutuskan jumlahnya ditingkatkan menjadi 70.000,” jelasnya.

Narasumber lainnya yakni Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, SP, MSi. Dia menekankan pentingnya riset dan inovasi dalam menjaga keanekaragaman hayati serta memperkuat kedaulatan genetik Indonesia.

“Menjaga alam agar alam menjaga kita. Pelajari alam agar alam tidak menjadi pelajaran bagi kita,” ujarnya.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono

Dekarbonisasi: Satu-Satunya Jalan

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono menegaskan bahwa dekarbonisasi adalah keniscayaan bagi Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa suhu rata-rata bumi telah meningkat sekitar 1,4–1,6 derajat Celsius dibandingkan era pra-Revolusi Industri.

“Kalau kita hanya bicara pertumbuhan ekonomi tapi pulau-pulau kita tenggelam, kita mau hidup di mana? Karena itu tidak ada jalan lain selain beralih dari karbonisasi ke dekarbonisasi,” tegas Diaz.

Kenaikan permukaan laut yang telah mencapai 21–24 sentimeter diproyeksikan meningkat hingga 56 sentimeter pada 2050, yang berpotensi menenggelamkan sekitar 1.500 pulau di Indonesia.

Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki

Transformasi Kehutanan: Dari Ekstraktif ke Regeneratif

Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menjelaskan bahwa Indonesia memiliki 120 juta hektare kawasan hutan yang terbagi dalam hutan konservasi, lindung, dan produksi. Pemerintah kini mendorong transformasi pembangunan hutan dari model ekstraktif menuju regeneratif berbasis restorasi ekosistem.

Sebanyak 437 unit perizinan bertransformasi menjadi BUPH restorasi ekosistem dengan luas sekitar 10 juta hektare. Indonesia juga memiliki potensi nilai ekonomi karbon hingga 17,4 miliar ton CO₂e hingga 2050.

Rohmat menambahkan, Indonesia memiliki 3,4 juta hektare mangrove (20% mangrove dunia) dan 20,7 juta hektare gambut, yang mampu menyerap karbon 3–5 kali lebih besar dibanding hutan tropis daratan. Pemerintah menargetkan percepatan rehabilitasi 600 ribu hektare mangrove kritis dengan skema pendanaan kolaboratif dan result-based payment.

Dewan Pakar Badan Gizi Nasional (BGN), Prof. Ikeu Tanziha, MS

MBG: Gizi dan Penggerak Ekonomi Daerah

Dewan Pakar Badan Gizi Nasional (BGN), Prof. Ikeu Tanziha, MS, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya intervensi gizi, tetapi juga penggerak ekonomi lokal.

Dengan 22.793 SPPG yang melayani jutaan porsi setiap hari, kebutuhan bahan pangan membuka pasar besar bagi petani dan UMKM.

“Program ini adalah pasar yang jelas. Pasarnya ada, kebutuhannya pasti, volumenya besar,” ujarnya.

Pendekatan menu berbasis potensi lokal memungkinkan pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan menuju Indonesia Emas 2045.

Forum ini juga menghadirkan dua sesi diskusi strategis.

Sesi 1: “Transisi Energi dan Masa Depan EV: Dari Ambisi ke Implementasi” menghadirkan Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus, Rizal Edwin Manansang, Welfizon Yuza (Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) 4. Paul Butarbutar, Sekretaris Jenderal METI.

Sesi 2: “Mengubah Alam Menjadi Nilai Ekonomi Berkelanjutan” menghadirkan Boby Wahyu Hernawan (Direktur Kerjasama Multilateral dan Keuangan Keberlanjutan, Kementerian Keuangan RI) 2. Rio Christiawan (Co-founder and CEO PLUM Project) 3. Rohib, S.T., M.Eng., Ph.D. (Head of Compliance and Sustainability Support Center for Sustainability and Waste Management Universitas Indonesia)

NATURE 2026 disponsori oleh PT PLN (Persero) dan didukung oleh Badan Gizi Nasional, PT Pagatan Usaha Makmur, PT Permodalan Nasional Madani, PT Indika, PT Bank Mandiri (Persero), PT Bank Central Asia, dan PT Bank Jakarta.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close