Kepala BRIN Prof Arif Satria Sebut Riset Jadi Kunci Jaga Biodiversitas dan Kedaulatan Indonesia

Kepala BRIN Prof Arif Satria Sebut Riset Jadi Kunci Jaga Biodiversitas dan Kedaulatan Indonesia

Nusantaratv.com - 12 Februari 2026

Kepala BRIN Prof Arif Satria dan Presiden Komisaris NT Corp Nurdin Tampubolon (Ntv)
Kepala BRIN Prof Arif Satria dan Presiden Komisaris NT Corp Nurdin Tampubolon (Ntv)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, SP, MSi, menegaskan bahwa riset dan inovasi menjadi kunci utama dalam menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memperkuat kedaulatan Indonesia di tengah komitmen global terhadap perlindungan lingkungan.

Hal itu disampaikan Arif dalam acara Nature 2026 di Nusantara Ballroom NT Tower, Kamis (12/2/2026). Ia menekankan bahwa isu biodiversitas telah menjadi agenda dunia, mulai dari target SDGs 2030 hingga Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework 2020–2050.

“Menjaga alam agar alam menjaga kita. Pelajari alam agar alam tidak menjadi pelajaran bagi kita,” ujarnya.

Menurut Arif, Indonesia memiliki modal besar sebagai negara megabiodiversitas. Kekayaan spesies, posisi geografis strategis, serta bonus demografi menuju 2040 menjadi peluang untuk menjadikan sains sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.

Namun, konservasi saat ini tidak cukup dilakukan secara konvensional. Ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis teknologi, termasuk bioteknologi dan rekayasa genetika.

Arif mencontohkan pengembangan teknologi reproduksi berbantu (Assisted Reproductive Technology/ART) untuk konservasi badak yang populasinya di alam sangat terbatas dan mengalami kesulitan berkembang biak. Riset tersebut melibatkan pengambilan material genetik hingga pengembangan teknologi bayi tabung satwa.

Selain itu, dukungan riset juga diterapkan dalam penanganan kesehatan satwa liar, seperti operasi medis pada harimau yang membutuhkan presisi tinggi karena keterbatasan waktu pembiusan. “Konservasi spesies hari ini adalah konservasi berbasis sains. Tanpa teknologi, kita akan kehilangan banyak spesies,” tegasnya.

BRIN juga memperkuat upaya kedaulatan genetik melalui pengembangan bank gen dan penyimpanan DNA berbagai spesies Indonesia. Langkah ini dinilai penting agar sumber daya genetik nasional tidak dikuasai pihak asing serta dapat dimanfaatkan untuk riset lanjutan.

Sepanjang 2025, BRIN mencatat penemuan 49 spesies baru di Indonesia. Temuan tersebut memiliki potensi besar, baik untuk farmasi, ekonomi karbon, maupun pariwisata berbasis alam.

Dalam sektor kesehatan, Arif mendorong percepatan hilirisasi jamu menjadi fitofarmaka agar dapat diresepkan secara resmi oleh dokter. Ia menilai Indonesia tidak boleh hanya menjadi pemasok bahan baku, sementara negara lain mengembangkan produk bernilai tinggi melalui bioteknologi.

“Kita harus memperkuat bioprospecting agar senyawa dari biodiversitas kita menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri,” katanya.

Selain farmasi, BRIN juga mendorong pengembangan biomaterial berbasis sumber daya terbarukan sebagai bagian dari bioekonomi. Produk berbasis limbah pertanian, misalnya, dapat menjadi alternatif material non-terbarukan sekaligus mendukung industri berkelanjutan.

Arif menegaskan, tantangan perubahan iklim, degradasi habitat, hingga banjir rob di sejumlah wilayah pesisir harus dijawab dengan inovasi berbasis riset. Menurutnya, bio-revolution menjadi arah masa depan pembangunan nasional.

“Kalau kita ingin berdaulat dan berkelanjutan, kuncinya ada pada sains. Biodiversitas bukan hanya warisan alam, tetapi fondasi masa depan ekonomi Indonesia,” pungkasnya.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close