Varian Baru Covid-19 Timbulkan Beragam Gejala Baru

Gejala-gejalanya memang agak membingungkan karenyaa gejala covid-19 disebut the great imitator.

Di tengah perjuangan untuk mengendalikan dan membasmi pandemi covid-19 yang telah menginfeksi dan menewaskan jutaan orang di dunia. Kini muncul kabar yang mengkhawatirkan yakni munculnya varian baru covid-19 dengan gejala-gejala yang semakin beragam dan menyerupai gejala penyakit lain. 

Apa yang menyebabkan munculnya gejala baru tersebut dan bagaimana penanganan di Indonesia usai ditemukannya variam baru virus corona?

Topik ini menjadi pembahasan Host Muhammad Irsal dan narasumber Epidemiolog dari Universitas Indonesia DR dr Tri Yunis Miko Wahyono MSc dalam Dialog Nusantara Siang yang disiarkan NusantaraTV, Senin (1/2/2021).

Sebagai edukasi, gejala seperti apa yang ditemukan para ahli? 

Varian baru covid-19 pertama kali ditemukan di Inggris kemudian menyebar ke negara-negara Eropa, Afrika Selatan, ke Singapura dan terakhir ditemukan di Malaysia.

Gejala-gejalanya memang agak membingungkan karenyaa gejala covid-19 disebut the great imitator. Karena covid-19 bisa menimbulkan gejala yang macam-macam, meniru dari penyakit komorbidnya. Sebagai jenis penyakit yang menyerang sistem pernapasan, covid-19 harusnya gejalanya pernapasan. Namunn karena dia bisa meniru penyakit lain maka dia bisa timbul gejala baru.

Apakah hanya covid-19 yang bisa meniru gejala-gejala penyakit lain di tubuh kita ataukah memang pergerakkan semua jenis virus seperti itu?

Covid-19 berbeda dengan influenza. Dia menginfeksi orang yang sedang turun imunitasnya. Begitu diserang imunitasnya akan turun lagi. Itu yang menyebabkan timbul gejala-gejala penyakit apapun. 

Gejala covid-19 kan menyerang sistem pernapasan. Berapa persentase covid-19 bisa  menimbulkan gejala-gejala penyakit lain?

Tiap orang akan berbeda. Kalau imunitasnya turun sedikit setelah terserang covid-19 kemudian tidak turun lagi dia akan menjadi orang tanpa gejala (OTG). Karena imunitasnya tidak drop. 

Namun begitu turun sedikitkemudian begitu terinfeksi dia turun lagi maka gejalanya akan menjadi kasus ringan. Kemudian kalau imunitasnya turun lagi dia akan menjadi sedang kemudian turun lagi dia akan menjadi berat. Yang berat dan sedang tergantung apakah seseorang yang terinfeksi memiliki komorbid (penyakit penyerta). Jika dia ada komorbidnya, orang yang selama ini tidak hipertensi pada waktu dia terserang jadi timbul hipertensi. 

Orang yang selama ini tidak asma begitu terserang pada kasus sedang asmanya timbul. Jadi penyakit apapun bisa timbul pada saat imunitasnya turun lagi. Jadi gejala apapun bisa timbul.  Bahkan seseorang terserang coviud-19 kalau imunnya turun bisa tiba-tiba diare. Padahal dia tidak diare.

Mungkin ini juga yang menjadi dilema masyarakat ketika covid-19 ini bisa menyerupai gejala-gejala penyakit lain. Masyarakat jadi enggan periksa ke rumah sakit karena apapun gejala yang ditanyakan oleh dokter pasti ujung-ujungnya harus dilakukan swab PCR. Edukasi seperti apa yang bisa diberikan kepada masyarakat?

Sekarang setiap fasilitas kesehatan screening pertamanya adalah screening covid-19. Misalnya begitu dia timbul gejala maka apapun gejalanya mau itu flu atau diare maka screening covid-19 menjadi anjuran. 

Sekarang kan musim berdarah harusnya screening demam berdarah. Tetapi karena covid-19 bisa menyerupai kena covid-19, bisa tiba-tiba berdarah mungkin demam berdarah menjadi komorbidnya nanti kemudian hari baru diperiksa. Padahal harusnya dua-duanya.

Apakah sudah tepat covidnya dulu baru demam berdarah? Kalau sudah covid-19 penanganan dan perawatannya seputar covid penyakit yang menyerupai seperti itu lainnya seperti demam berdarah dan typhus tidak terobati. Apa dampaknya?

Sekarang semua fasilitas kesehatan kalau ada pasien masuk yang diperiksa duluan adalah covidnya. Apakah dia menderita covid? Jika benar kena covid dipastikan apakah dia menderita demam berdarah. Dalam hal ini demam berdarah seolah-olah menjadi penyakit kedua. Jadi kalau dia menderita dua-duanya penyakit covid-19 dan demam berdarah maka demam berdarahnya menjadi berat. Demam berdarah ada derajatnya yakni derajat 1, 2, 3 dan 4. Jadi kalau kena covid dia bisa langsung derajat 3 dan 4. Sampai shock sampai tekanan darahnya menurun hingga tak sadarkan diri. itulah tantangan pada covid. 

Karena covid-19 akan menurunkan imunitasnya bahkan dampaknya imunitasnya itu turun untuk waktu yang lama. Bisa sebulan atau dua bulan.

Apakah covid-19 bisa sembuh dalam 14 hari? Tapi ada pasien yang sudah 21 hari bahkan sebulan atau dua bulan dicek masih positif. Apa yang terjadi pada tubuh pasien?

Seperti yang saya katakan, begitu covid-19 menyerang seseorang tergantung pada imunitas. Kalau imunitasnya kuat dia dua minggu akan sembuh. Kalau imunitasnya lemah mungkin akan bertahan 3 minggu, sebulan dua bulan. Kalau pada usia yang tua saja 56 tahun ke atas kemungkinan besar penyakitnya akan bertahan sampai satu bulan. Jadi sangat tergantung pada kondisi seseorang.

Nusantara Siang hadir untuk kebutuhan anda mengenai berita-berita terupdate setiap harinya. Saksikan Nusantara Petang setiap hari Senin - Jumat jam 11.00 WIB hanya di Nusantara TV  

Login dengan
LIVE TV & NETWORK