Nadeo Risau Menanti Keputusan FIFA

Nusantaratv.com - 07/10/2022 23:57

Nadeo Arga Winata
Nadeo Arga Winata

Penulis: Reynaldi | Editor: Arfa Gandhi

Nusantaratv.com - Sepak bola Indonesia kembali menjadi sorotan dunia internasional. Bukan karena prestasi gemilang, tetapi akibat kejadian pilu yang terjadi di Tanah Air.

Ratusan nyawa melayang dan puluhan luka-luka akibat tragedi kelam yang terjadi di Stadion Kanjuruhan awal bulan Oktober (1/10) lalu.

Tepat selepas peluit panjang pertandingan Arema FC dan Persebaya berbunyi, kerusuhan pecah. Skor akhir 3-2 membuat ribuan suporter tuan rumah turun menyerbu ke dalam area pertandingan dari bangku tribun.

Keadaan pun menjadi tidak terkendali. Massa yang mengamuk ditambah respon dari pihak kepolisian yang menembakkan gas air mata membuat keadaan kian kacau.

Akibatnya, sebanyak sebanyak 574 orang menjadi korban dari Tragedi Kanjuruhan tersebut. Dengan rincian 131 korban meninggal dunia, 377 korban luka telah dipulangkan, dan 66 orang masih dirawat di 25 rumah sakit di Malang Raya.

Sorotan dari dunia internasional pun langsung mengarah ke sepak bola Indonesia. Ucapan duka dan simpati mengalir deras dari berbagai penjuru.

Namun, terlepas dari kejadian tragis ini, sepak bola Indonesia berada di bawah bayang-bayang sanksi serius dari FIFA.

Pasalnya, pasca tragedi ini, Indonesia terancam terkena tujuh sanksi dari federasi sepak bola dunia tersebut. Salah satunya adalah ancaman pembekuan kompetisi nasional.

Tidak main-main, kompetisi sepak bola Indonesia terancam vakum selama 8 tahun.

Hal tersebut tentu membuat seluruh insan yang menggeluti dunia kulit bulat ini risau. Sebab, jika sanksi tersebut benar-benar dijatuhkan kepada Indonesia, maka akan memberikan dampak yang sangat besar.

Seluruh pegiat sepak bola mulai dari pemain, suporter, pedagang, dan sejumlah individu yang menggantungkan hidup dari dunia kulit bulat tentu terdampak.

Pemain Bali United, Nadeo Arga Winata pun menjadi salah seorang yang was-was jika federasi yang dipimpin oleh Gianni Infantino tersebut menghukum Indonesia. Kekhawatiran kiper asal Kediri tersebut tentu beralasan.

Sebab, delapan tahun tentu bukanlah waktu yang singkat. Hal tersebut tentu akan membuat banyak orang kesusahan, bukan hanya para pemain saja.

Maka dari itu, pemilik nomor punggung 1 itu berharap dan berdoa agar apapun keputusan dari FIFA atas Tragedi Kanjuruhan tersebut adalah yang terbaik.

“Jujur dalam hati pasti sangat khawatir. Saya rasa bukan hanya saya saja, tetapi pemain lain pasti sangat khawatir juga. Apalagi ini menyangkut tentang pekerjaan kami, bukan lagi hobi. Sudah menyangkut pekerjaan kami mencari nafkah kami di sini (sepak bola). Pasti khawatir dan kembali lagi, saya berharap sanksi yang diberikan tidak memberatkan atau tidak terlalu parah,” ujar Nadeo.

Jika ditarik mundur ke tahun 2015 silam, Indonesia pernah menerima sanksi berat dari FIFA. Pada saat itu, sepak bola Tanah Air dibekukan selama satu tahun lebih.

Sanksi tersebut dijatuhkan akibat adanya intervensi dari pemerintah (Kemenpora dan BOPI) terhadap sepak bola Indonesia.

Pembekuan FIFA terhadap sepak bola nasional baru berakhir pada 13 Mei 2016 melalui kongres ke-66 di Meksiko usai Kemenpora mencabut surat keputusan (SK) pembekuan PSSI tepatnya pada 16 Mei 2016.

Selama pembekuan sepak bola tersebut tentu memberikan dampak besar dan untuk mengisi kekosongan tersebut digelarlah kompetisi bertajuk Piala Presiden, Piala Jenderal Sudirman, dan Indonesian Soccer Championship.

Kini, di tengah situasi yang masih belum kondusif pasca Tragedi Kanjuruhan, semua pihak tentu harus arif dan bijaksana sebelum bertindak serta mengambil keputusan. Hal tersebut tentu demi kebaikan bersama.

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in