18 Tahun Serangan WTC, Ini Pengakuan Dalang Serangan Gedung WTC

Para teroris Al Qaeda menabrakkan pesawat Boeing 767-200 milik United Airlines ke dalam gedung pencakar langit, di Menara Selatan, 18 menit setelah sebuah pesawat lain menubruk masuk ke Menara Utara (North Tower), pada 11 September, 18 tahun lalu. Kedua menara runtuh dalam waktu dua jam. 
18 Tahun Serangan WTC, Ini Pengakuan Dalang Serangan Gedung WTC
Menara kembar WTC runtuh diserang teroris jaringan Al Qaeda./businessinsider

Nusantaratv.com - Masih ingatkah kita akan serangan teroris ke beberapa target di Amerika Serikat pada 18 tahun silam yang dikenal dengan serangan “9/11” atau “ nine eleven” itu?

Para teroris Al Qaeda menabrakkan pesawat Boeing 767-200 milik United Airlines ke dalam gedung pencakar langit, di Menara Selatan, 18 menit setelah sebuah pesawat lain menubruk masuk ke Menara Utara (North Tower), pada 11 September, 18 tahun lalu. Kedua menara runtuh dalam waktu dua jam. 

Serangan jaringan teroris Al Qaeda itu menewaskan hampir 3.000 orang termasuk 19 teroris Al Qaeda yang membajak pesawat komersial tersebut.

BACA JUGA : 18 Tahun Serangan “9/11”: WTC Runtuh Karena Bom?

Hari ini, 11 September 2019 bertepatan dengan 18 tahun tragedi runtuhnya menara kembar World Trade Center di Amerika Serikat.

Khalid Shaikh Mohammad, seorang lelaki mengaku sebagai otak dalam serangan teroris 11 September 2001 di Amerika Serikat menulis surat kepada Presiden Barack Obama (kala itu) dari penjara Guantanamo.

Dalam suratnya, Khalid mengungkapkan pembenarannya. Dia menyebut plot serangan teror tersebut merupakan reaksi alamiah dari kebijakan luar negeri AS.

Khalid Shaikh Mohammad adalah satu dari lima tahanan di Guantanamo yang menghadapi pengadilan komisi militer untuk perannya dalam rencana pembajakan pesawat kala itu.

Gambar Khalid Sheikh Mohammed, dalang serangan teror di Amerika Serikat pada 11 September 2001 diambil tak lama setelah dia ditangkap di Pakistan, pada 1 Maret 2003. (AP)

Khalid mengaku tak mempermasalahkan ancaman hukuman seumur hidup atau bahkan hukuman mati yang bakal diterimanya.

“Jika pengadilan memutuskan saya dengan hukuman seumur hidup, saya akan berbahagia hidup sendiri di dalam sel tahanan untuk menyembah Allah di sisa hidup saya,” tulis dia.

BACA JUGA : Serangan 11 September 2001 Diperingati Hari Ini. Masih Ingat Berapa Korban Jiwanya?

“Kesempatan itu akan menjadi waktu saya untuk bertobat atas semua dosa dan kesalahan yang saya lakukan,” ujar Khalid.

“Namun, jika pengadilan memutuskan vonis hukuman mati, saya akan lebih bahagia lagi,” ucap Khalid.

“Saya akan bertemu dengan Allah dan para nabi serta kawan-kawan baik saya yang telah Anda bunuh di seluruh dunia, saya pun akan bertemu Sheikh Osama bin Laden,” ujar dia.

Khalid berusaha mengirim surat ini sejak tahun 2015. Namun, niatnya itu dicegah oleh otoritas penjara dan juga hakim militer yang memimpin kasusnya atas permintaan jaksa.

Sebab, surat itu dinilai akan menjadi bahan propaganda.

Setelah menjalani proses hukum, pengadilan mengizinkan surat untuk dikirimkan, bersamaan dengan turunnya Obama dari kursi kepresidenan.

Di dalam surat itu, juga muncul kecaman terhadap Obama, dengan menyebut tangan mantan Presiden AS itu masih basah dengan darah saudara-saudaranya.

Kalimat itu merujuk kepada tewasnya warga sipil Palestina di Gaza akibat perbuatan tentara Israel.

Dia juga merujuk tewasnya warga sipil akibat serangan bom dari pesawat tanpa awak di Yaman dan sejumlah daerah lain.

“Dua serangan yang terjadi di Washington dan New York itu merupakan akibat dari kebijakan destruktif Anda kepada umat Islam,” tulis Khalid kepada Obama.

Isi surat ini dipublikasikan pertama kali oleh the Miami Herald. Kantor berita AP pun menerima salinan surat ini dari tim pengacara yang membela Khalid dan kemudian melansirnya pada Kamis (9/2/2017).

BACA JUGA : Misteri Angka 11 Pada Peristiwa 11 September 2001

Namun, tim pengacara ragu pesan tersebut dibaca oleh Obama. Sebab, surat itu sampai ke Gedung Putih beberapa hari menjelang Obama menyerahkan jabatan kepada Donald Trump.

Mayor Marinir Derek Poteet, salah satu pengacara militer yang ditugaskan mendampingi Khalid, menyebut, kliennya mulai menulis surat itu pada tahun 2014.

“Surat ini tampaknya menegaskan keteguhan dia yang percaya bahwa AS tak pernah memandang korban jiwa di seluruh dunia, khususnya umat Muslim, sebagai sesuatu yang berarti,” kata Poteet.

Khalid dan beberapa terdakwa lain menghadapi tuduhan pembajakan, terorisme, dan pembunuhan atas 3.000 orang yang melanggar hukum perang. Kasus terakhir itu kini masih dalam persiapan peradilan.

Dalam sebuah panel tertutup pada tahun 2007, Khalid mengaku merencanakan serangan 11 September “dari A sampai Z”, dan telah terlibat dalam banyak persiapan lainnya.

BACA JUGA : Kontroversi Kepemimpinan Donald Trump

Selain itu berdasarkan uraian dalam sebuah transkrip disebutkan, Khalid pun mengaku menjadi algojo yang memenggal reporter Wall Street Journal, Daniel Pearl.

Pada sidang publik pertama pada tahun 2008, ia meneriakkan ayat-ayat Al Quran dan menyatakan siap menjadi martir untuk perannya dalam serangan 11 September.

Sumber: tribunnews.com