Butuh Rp100 Miliar untuk Pembinaan Usia Dini

PB Djarum bersikukuh untuk menutup audisi umum bulutangkis yang sudah berjalan sejak 2006 mulai tahun depan. Mereka kesal karena dituduh melakukan eksploitasi anak secara terselubung pada kaus peserta audisi umum bertuliskan brand perusahaan rokok, Djarum.
Butuh Rp100 Miliar untuk Pembinaan Usia Dini
PB Djarum stop audisi pencarian bibit unggul di bulutangkis./pontianakpos.co.id

Nusantaratv.com - Dengan berhentinya Audisi pencarian bakat di usia dini yang dilakukan PB Djarum, diyakini ke depan Indonesia akan kesulitan melakukan regenerasi atlet dicabang bulutangkis.

PP PBSI mengatakan penyetopan audisi umum PB Djarum tak hanya merusak ekosistem bulutangkis, tapi suplai atlet berbakat juga bakal tersendat.

Audisi PB Djarum ajang pencarian bakat di bulutangkis usia dini. (semarangpedia.com)

Penghapusan Audisi pencarian bakat usia dini oleh PB Djarum seakan menjadi lonceng kematian dunia perbulutangkisan di tanah air. 

Yang paling merasakan dampaknya adalah PP PBSI karena keputusan PB Djarum itu akan mempengaruhi proses pembinaan yang selama ini berjalan, terutama di pelatnas.

BACA JUGA : Akun KPAI Diserang Warganet Setelah PB Djarum Undur Diri dari Audisi

Menghadapi situasi ini, PP PBSI tidak boleh tinggal diam. Harus segera disiapkan formula baru dalam rangka menjaring pemain-pemain muda berbakat di daerah.

PB Djarum bersikukuh untuk menutup audisi umum bulutangkis yang sudah berjalan sejak 2006 mulai tahun depan. Mereka kesal karena dituduh melakukan eksploitasi anak secara terselubung pada kaus peserta audisi umum bertuliskan brand perusahaan rokok, Djarum.

Selama ini, PB Djarum merupakan salah satu klub yang aktif menyumbangkan atletnya ke Pelatnas PBSI. Bahkan, beberapa jebolan PB Djarum merupakan pemain-pemain top bulutangkis dunia, salah satunya Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Pencarian bakat muda di bulutangkis.(headtopics.com)

“Audisi ini memberi tiga dampak pada ekosistem bulu tangkis. Pertama, berkaitan rekrutmen pendidikan. Kedua, dengan audisi terbuka didukung publikasi, ini adalah pemasaran bulu tangkis secara nasional. Orang yang tidak tahu menjadi tahu, orang menjadi tertarik. Mungkin ada satu data nantinya, sebelum ada audisi seperti apa,” kata Sekretaris Jenderal PP PBSI, Achmad Budiharto di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (11/9/2019).

“Ada juga multi player effect. Banyak orang-orang yang mendorong anaknya berlatih bulu tangkis di klub, tumbuh klub kecil di daerah. Dengan tumbuhnya itu, muncul perputaran bisnis, karena main bulutangkis butuh raket, sepatu, kock,” sambungnya.

Budi, panggilan karib Achmad Budiharto, mengakui klub-klub bulutangkis di Indonesia sangat banyak. Tetapi yang punya kemampuan besar seperti PB Djarum terbatas.

BACA JUGA : Polemik KPAI dan PB Djarum, Wiranto: Sudah Ada Konsep Baru

“PBSI tak memiliki kemampuan mendidik anak dari usia dini sampai matang. Kecuali nanti pemerintah memberikan dana Rp 100 miliar, kami bisa tangani usia dini. DPR sudah menyatakan tidak memiliki anggaran itu. Artinya kami harus memberdayakan peran swasta,” kata dia.

“Swasta pun yang mampu banyak, yang bisa melebihi Djarum juga banyak, tapi mau tidak? Syaratnya ada dua, mampu dan mau. Tapi faktanya, 50 persen kontributor pemain nasional ya dari PB Djarum.”

Sumber: sport.detik.com