Perang Melawan Corona, Ahli: Jangan Tunggu Kasus Membengkak

Jadi kalau sekarang jumlah kasus positif covid-19 di Indonesia sudah lebih dari 1 juta jangan ditunggu sampai 1,5 dan 2 juta. Karena biaya penanggulangannya akan...

Di tengah perjuangan untuk mengendalikan dan membasmi pandemi covid-19 yang telah menginfeksi dan menewaskan jutaan orang di dunia. Kini muncul kabar yang mengkhawatirkan yakni munculnya varian baru covid-19 dengan gejala-gejala yang semakin beragam dan menyerupai gejala akibat penyakit lain. 

Apa yang menyebabkan munculnya gejala baru tersebut dan bagaimana penanganan di Indonesia usai ditemukannya variam baru virus corona?

Topik ini menjadi pembahasan Host Muhammad Irsal dan narasumber Epidemiolog dari Universitas Indonesia DR dr Tri Yunis Miko Wahyono MSc dalam Dialog Nusantara Siang yang disiarkan NusantaraTV, Senin (1/2/2021).

Kita tahu gejala baru dari covid-19 berupa sariawan. Apakah ini dinamakan proses mutasi gejala?

Jadi virus covid-19 itu gampang sekali bermutasi. Varian itu bisa mutasinya pada berapa gen kemudian bisa satu gen. Kebetulan varian B117 pada sifat penularannya. Ini mempengaruhi sifat dari virusnya menjadi sangat menular. Tetapi tidak mempengaruhi gen yang berdampak pada imunitas. Virus ini sudah bermutasi dari Jnauari sampai Mei 2020 menjadi tiga stereotipe yaitu stereotipe A, B dan C. Itu diyakini yang stereotipe A sudah ada di China, B di Eropa dan C di Amerika Serikat. Begitu cepat virus ini bermutasi.

Kalau melihat mutasinya virus ini seperti virus influenza gampang bermutasi kalau virus influenza tipa tahun menjadi stereotipe baru. Harus diantisipasi apakah itu mempengaruhi antibodi atau tidak.

Di Asia sudah terdeteksi varian baru ini di Singapura dan beberapa negara lain. Apakah ada kemungkinan sudah masuk ke Indonesia?

Tidak tertutup kemungkinan varian baru covid-19 ini sudah masuk ke Indonesia karena itu harus siap. Mudah-mudahan tidak masuk ke Indonesia. Indonesia sudah membentuk Tim Surveillance untuk mengawasi genotype dari varian baru covid-19. Tim Surveillance ini ditempatkan di rumah sakit-rumah sakit besar. Kita punya alat sequencer yang banyak di seluruh Indonesia hampir semua universitas negeri yang besar punya sequencer. Universitas Indonesia punya 2, Lembaga Eijkman punya 1, semua sequencer itu bisa memeriksa varian baru virus corona. Hanya saja ahlinya terbilang sedikit.

Apakah dengan alat sequencer Indonesia mampu.? Karena berdasarkan data Indonesia peringkat ke-85 dalam penanganan covid-19 dengan skor rata-rata 24,3 persen. Apalagi dengan varian baru covid-19. Seberapa optimis Indonesia dapat menahan varian baru covid-19 di Indonesia?

Saya belajar dari stereotipe sebelumnya, waktu SARS juga kita sudah membentuk tim. Masalahnya adalah biaya. Untuk mendapat atau menscreening varian baru ini memerlukan biaya yang banyak. Jadi Indonesia terkendala dengan biaya. Kalau ahlinya dan alatnya kita punya banyak.

Wabah yang sudah besar konsekuensinya memerlukan biaya penanggulangan yang besar. Jadi kalau sekarang jumlah kasus positif covid-19 di Indonesia sudah lebih dari 1 juta jangan ditunggu sampai 1,5 dan 2 juta. Karena biaya penanggulangannya akan menjadi lebih besar. Sekarang kita harus membeli vaksin, belum lagi harus meningkatkan tes-nya, mengkarantina kasusnya rumah sakit yang harus disediakan akan memakan biaya yang sangat besar. Belum lagi tenaga-tenaga tracingnya. Jadi jangan menunda-nunda penanggulangannya.

WHO mengatakan tujuh gejala baru yang tidak berakitan dengan fisik tapi seperti kebingungan, depresi dan lain sebagainya. Apakah ini hanya untuk covid-19 atau virus-virus lain juga bisa menyebabkan gejala di luar gejala fisik seperti pusing, diare dan lain sebagainya?

Itu adalah gejala yang subyektif seperti pusing, kebingungan, kelelahan sangat susah karena sifatnya individualis. Mungkin karena dia tahu itu virus baru dan sangat menular jadi takut dan akan menimbulkan kelelahan dan kebingungan apalagi kalau dia kena kasus sedang. Kalau kasus ringan kemungkinan tidak akan menimbulkan kebingungan. 

Di Indonesia angka kasus positif covid-19 sudah sangat tinggi, angka kesembuhan juga meningkat. Apakah penyintas covid-19 masih bisa terjangkit kembali?

Covid-19 itu bisa menjangkit berkali-kali. Sekali tidak menimbulkan imunitas kalau dengan jarak tertentu baru menimbulkan imunitas. Kalau jaraknya lama mungkin tidak menimbulkan imunitas, jadi bisa tiga kali terjangkit baru akan menimbulkan imunitas dan antibodi di dalam tubuh kita akan tinggi. Mungkin tiga kali infeksi akan imun. 

Nusantara Siang hadir untuk kebutuhan anda mengenai berita-berita terupdate setiap harinya. Saksikan Nusantara Petang setiap hari Senin - Jumat jam 11.00 WIB hanya di Nusantara TV 

 

Login dengan
LIVE TV & NETWORK