Warga Sukoharjo Ini Berhasil Olah Sampah Plastik Jadi BBM

Nusantaratv.com - 29/09/2022 20:53

Purwanto, 40 saat menunjukkan tungku pengolahan sampah dengan proses pembakaran, di lokasi produksinya, Rabu (28/9/2022). (Solopos.com)
Purwanto, 40 saat menunjukkan tungku pengolahan sampah dengan proses pembakaran, di lokasi produksinya, Rabu (28/9/2022). (Solopos.com)

Penulis: Armansyah

Nusantaratv.com - Melihat banyak sampah plastik di sungai sekitar desanya, seorang warga Dukuh Kebak RT 001/RW 013, Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah, Purwanto, 40, melakukan inovasi dengan mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM).

Cara Purwanto mendaur ulang sampah plastik menjadi BBM dengan cara dibakar.

Dengan bermodal tutorial dari YouTube, dimulai tahun 2018, Purwanto membuat percobaan itu menggunakan kaleng roti hingga pelat Besi. 

“Saya uji coba pakai blek (kaleng roti) dan akhirnya bisa, lalu pakai alat hasil rakitan sendiri dari pelat besi. Kalau yang pelat besi itu bisa sampai 2-3 kilogram sampah plastik kering,” kata Purwanto saat ditemui di lokasi produksi, Rabu (28/9/2022), mengutip solopos.com.

Setelah ujicoba dengan menggunakan peralatan yang sederhana dan berhasil, Purwanto pun nekat mengajukan alat pembakaran yang lebih besar ke Kementeerian Perindustrian melalui DPRD Sukoharjo.

Akhirnya pengajuannya itu disetujui. Pada 2019 ia mendapatkan alat pembakaran semacam tungku dengan kapasitas lebih besar yakni 20 kilogram. Harga tungku pembakaran yang diperolehnya itu ditaksir sekitar Rp200 juta.

Menurut Purwanto, dari 20 kilogram sampah plastik dapat menghasilkan 17 liter solar, minyak tanah hingga premium. Dari ketiga jenis BBM yang diperolehnya, solar bisa mendapatkan 12 liter, sedangkan untuk minyak tanah dan premium, bisa diperoleh lima liter.

“Satu kali proses pembakaran itu bisa menghasilkan tiga jenis itu. Tergantung dari masa jenisnya, paling banyak solar ini bisa sampai 12 liter. Jadi tidak dibuat sendiri-sendiri [per jenis], residunya [ampasnya] juga bisa digunakan untuk bahan bakar karena kan masih mengandung minyak,” terang Purwanto.

Purwanto mengatakan sampah plastik tersebut dia peroleh dari warga sekitar yang akan menukarkan dengan solar hingga Bank sampah yang dikelola kader-kader PKK setempat. Sehingga dia mengaku selama ini tidak kesulitan untuk mendapatkan sampah plastik.

Dia menjual hasil olahan sampah tersebut kepada warga sekitar yang mayoritas sebagai perajin genting. Mengingat para perajin itu biasanya membutuhkan minyak untuk pelicin antara tanah liat dengan cetakan.

Harga solar dijual Rp7.000 per liter. Ia juga membarter per liter solar dengan sampah plastik. Sementara untuk minyak tanah dan premium dihargai sama yaitu Rp10.000 per liter.

Produksi sampah plastik menjadi BBM tersebut dia lakoni seorang diri. Hasil pengolahannya itu juga pernah diuji coba di laboratorium Universitas Gajah Mada (UGM).

Dari hasil uji lab itu BBM miliknya memiliki kandungan senyawa yang bisa digunakan untuk BBM, namun kadar karbonnya masih tinggi.

Selain itu dia juga pernah melakukan uji lab di Surabaya untuk memastikan apakah hasil pengolahannya itu bisa digunakan untuk mengawetkan kayu.

“Sudah pernah uji performa juga di Surabaya di pabrik kayu, hasilnya juga tidak ada masalah dan bisa buat pengawet kayu, cuman masih ada bau plastik. Kalau bau plastik sudah hilang mereka mau menerima satu hari 200 liter,” ungkapnya.

Usai kenaikan harga BBM permintaan warga masyarakat di desanya kini meningkat. Menurutnya bagi masyarakat kecil untuk tetap menunjang produksi genting mereka memilih harga bahan baku yang miring.

“Tetap ada kenaikan permintaan ya sekitar hampir 50%  dari warga sekitar. Biasanya hanya 3-5 botol sekarang bisa sampai 8-10 botol,” ujar Purwanto.

Dia berharap pada 2025 Indonesia bisa terbebas dari sampah organik maupun plastik, mengingat sampah plastik sendiri sulit untuk terurai dan dapat mencemari udara, tanah hingga air.

“Kita lihat di TPA Mulur 2024 sudah penuh sampah. Kalau penuh kemana lagi. Insyaallah di Wirun nanti ada pengolahan, jadi sampah di Wirun tidak perlu dibuang di TPA bisa kami kelola sendiri,” harap Purwanto.

Sementara itu dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo, Agus Prapto mengatakan hasil inovasi itu akan dia cek terlebih dahulu apakah hal tersebut dapat menjadi solusi pengurangan sampah di Kabupaten Jamu.

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in