Ngeri! Pakar Ingatkan Serangan Siber Rusia Bisa Mengancam Sistem Perawatan Kesehatan AS

Nusantaratv.com - 12/03/2022 17:50

Serangan siber Rusia bisa mengancam sistem perawatan kesehatan AS. (www.BillionPhotos.com/Shutterstock)
Serangan siber Rusia bisa mengancam sistem perawatan kesehatan AS. (www.BillionPhotos.com/Shutterstock)

Penulis: Tri Budi Purnomo | Editor: Adiantoro

Nusantaratv.com - Orang sakit yang mencari perawatan untuk menyelamatkan nyawa di Amerika Serikat (AS) bisa menjadi korban bagian tersembunyi dari perang Rusia di Ukraina.

Serangan siber itu bertujuan menabur gangguan, kebingungan, dan kekacauan, seperti dikutip dari UPI, Sabtu (12/3/2022). Pakar keamanan siber memperingatkan serangan yang diluncurkan terhadap institusi Ukraina berpotensi meluas ke sistem perawatan kesehatan AS, yang berpotensi membahayakan nyawa pasien.

Program keamanan siber di Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS pekan lalu mengeluarkan analisis yang memperingatkan pejabat TI layanan kesehatan tentang dua bagian malware Rusia yang dapat menghapus data rumah sakit yang penting untuk perawatan pasien.

Dan sejak awal Desember, Asosiasi Rumah Sakit AS telah memperingatkan tentang peningkatan risiko terkait serangan siber Rusia, kata John Riggi, penasihat nasional asosiasi untuk keamanan dan risiko siber.

"Kami mengeluarkan nasihat kepada rumah sakit dan sistem kesehatan negara, mengatakan ketegangan geopolitik pasti akan meningkatkan risiko serangan siber, yang berpotensi berdampak pada perawatan kesehatan AS," kata Riggi.

Dijelaskannya, serangan semacam itu berpotensi merenggut nyawa, dengan memotong data pasien yang dibutuhkan dokter dan perawat dan menyebabkan rumah sakit yang diserang menunda prosedur terjadwal dan mengalihkan orang yang sakit kritis ke fasilitas lain.

Hampir seperempat organisasi layanan kesehatan yang terkena serangan ransomware selama dua tahun terakhir mengatakan serangan itu mengakibatkan peningkatan tingkat kematian pasien, menurut laporan September 2021 yang disponsori oleh perusahaan keamanan siber Censnet.

Lebih lanjut, sekitar dua dari lima (37 persen) mengatakan serangan tersebut menyebabkan peningkatan komplikasi dari prosedur medis, sementara lebih dari dua pertiga (69 persen) mengatakan penundaan dalam prosedur dan tes telah menyebabkan hasil pasien yang buruk, kata laporan itu.

"Itu bukan kejahatan finansial. Ini adalah kejahatan yang mengancam nyawa, dan pemerintah perlu menanggapinya, termasuk operasi ofensif terhadap orang-orang jahat yang berbasis di luar negeri ini," lanjut Riggi.

Bahkan sebelum Rusia melancarkan serangannya ke Ukraina, serangan siber telah dianggap sebagai ancaman teknologi teratas yang dihadapi layanan kesehatan AS. Lembaga pemikir perawatan kesehatan nirlaba ECRI baru-baru ini mendaftarkan serangan keamanan siber sebagai bahaya teknologi kesehatan teratas untuk tahun 2022.

"Semua organisasi perawatan kesehatan tunduk pada insiden keamanan siber. Pertanyaannya bukan apakah fasilitas tertentu akan diserang, tapi kapan," jelas ECRI.

Sistem perawatan kesehatan menghadapi rentetan serangan phishing yang konstan, di mana email palsu digunakan untuk mendapatkan akses ke jaringan komputer mereka, serta serangan berbasis internet terhadap keamanan TI, kata Lee Kim, kepala senior keamanan siber dan privasi untuk Sistem Informasi dan Manajemen Kesehatan Masyarakat (HIMSS).

"Realitas keamanan siber saat ini adalah bahwa serangan siber benar-benar merajalela, bahkan di saat tidak ada konflik geopolitik apa pun. Itu terjadi ratusan, jika bukan ribuan, setiap hari," ungkap Kim.

Hal senada juga didukung La Monte Yarborough, kepala petugas keamanan informasi untuk Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS. "Sementara peristiwa seperti yang terjadi di Eropa Timur saat ini dapat menunjukkan lingkungan ancaman yang meningkat dan perlunya kewaspadaan yang lebih besar, aktor jahat akan sering memanfaatkan peristiwa apa pun untuk meluncurkan serangan siber," imbuhnya.

"Aktor jahat memanfaatkan banyak jenis peristiwa seperti liburan, pemilihan umum, dan konflik geopolitik," tukas Yarborough.  

0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in