Imbauan Ketum Barnus Sikapi Situasi Terkini

Jika menyampaikan pendapat di muka umum telah ditunggangi pihak tertentu yang mau merusak kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia, maka akan menjadi masalah besar.
Imbauan Ketum Barnus Sikapi Situasi Terkini
Dr. Ir. Nurdin Tampubolon, M.M. (Ketua Umum Barisan Nusantara)

Dr.  Ir.  Nurdin Tampubolon,  M.M
(Ketua Umum Barisan Nusantara)

Jakarta, Nusantaratv.com - Ketua Umum Barisan Nusantara (Barnus) Dr. Ir. Nurdin Tampubolon, M.M. mengatakan kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum adalah hak asasi manusia yang dijamin konstitusi. 

Namun yang menjadi masalah adalah jika menyampaikan pendapat di muka umum atau dalam bentuk aksi unjuk rasa telah ditunggangi pihak tertentu yang mau merusak kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Maka akan menjadi sebuah masalah besar.

"Ya, saya kira apa yang dilakukan para mahasiswa selama itu unjuk rasa memang dijamin dalam konstitusi. Tapi, akan menjadi masalah apabila demo itu ditunggangi pihak tertentu yang mau merusak kesatuan dan persatuan Indonesia."

Pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara (Sumut), 64 tahun silam itu, mempersilahkan semua pihak untuk menggelar unjuk rasa. Namun, setelah itu, bisa menempuh jalur kompromi, diskusi, atau berdialog dengan pemerintah. Dan yang tidak boleh adalah merusak fasilitas umum dan berlaku anarkis.

"Dalam demokrasi ini, adik-adik saya, bahkan anak saya yang milenial ini, kalian ini nantinya adalah pewaris dari pada bangsa ini sebagai pemimpin masa depan. Kalian harus berpikir bahwa bangsa ini harus kita selamatkan. Kita bisa berbeda pendapat, kita tidak mau Indonesia pecah. Kita tidak mau Indonesia bubar."

"Apakah adik-adik mahasiswa saat ini melihat demo yang dilakukan masih wajar dengan adanya pembakaran, pemaksaan, provokasi dan lain sebagainya. Apakah kalian betul-betul  yakin bahwa kalian tidak ditunggangi oleh teroris, radikalisme yang ingin menghancurkan bangsa ini. Apakah kalian tidak melihat apa yang terjadi di Suriah dan di Timur Tengah yang negaranya hancur. Apakah nanti mau mengungsi bangsa ini, sekarang yang perlu dilihat, apa yang mau kalian tuntut dari DPR ini?"

Menurut suami dari Lince Berliana Tobing itu, DPR sesuai konstitusi negara telah terpilih dan harus dilantik sesuai konstitusi. Mengapa harus dihambat, bukankah hal itu justru merugikan bagi rakyat Indonesia. Dia meminta semua pihak berpikir ulang, pikirkan masa depan, terutama bagi para mahasiswa.

"Kemudian mendengar juga akan ada yang ingin menjatuhkan Presiden. Memberhentikan Presiden itu hanya ada tiga alasan sesuai dengan undang-undang. Pertama, apabila Presiden meninggal dunia. Kedua, apabila Presiden mengundurkan diri. Dan, ketiga, apabila Presiden melakukan kesalahan melanggar hukum dan sudah inkrah di pengadilan sampai di tingkat akhir."

Anak dari Umar Tampubolon (ayah) dan Rupina Br Sianipar (ibu) itu menegaskan Presiden Jokowi sudah akan dilantik, dimana juga sebagai orang menyatakan tidak bisa dilantik, malah ingin menjatihkan. Dengan alasan apa? Ini justru akan merugikan kita semua sebagai rakyat Indonesia.

"Tolong mahasiswa, kita harus menjaga Presiden Jokowi agar bisa dilantik sesuai konstitusi karena kalian mahasiswa yang menjadi pelopor bangsa ini ke depan. Untuk itu, saya mengimbau kepada mahasiswa, kalian harus melawan radikalisme yang ada saat ini dan harus mendukung Pesiden Jokowi, karena Presiden Jokowi sudah bekerja untuk bangsa ini, sudah bekerja untuk kalian, untuk mahasiswa dan untuk kita semua."

"Presiden Jokowi jelas dipilih oleh rakyat secara demokrasi dan tidak ada kesalahan. Mengapa malah ingin dijatuhkan? Konstitusi apa? Apakah negara ini negara 'koboi'. Apakah negara ini mau bubar, sehingga kita harus mengkaji ulang semua yang terjadi saat ini."

Untuk itu, harapan kepada para mahasiswa, silakan demo, tetapi demo yang sesuai dengan aturan. Berikan aspirasi, jika tidak memuaskan mari melakukan dialog, jangan malah merusak, jangan menghambat demokrasi, jangan menghambat konstitusi bangsa Indonesia, jangan anarkis dengan membakar, dan lain sebagainya.

"Untuk itu, mari kita sama-sama membangun bangsa ini untuk masa depan kalian adik-adik saya mahasiswa yang saya hormati, dan saya sayangi dan saya banggakan. Itu imbauan saya."

Hari ini atau Selasa (1/10/2019), pelantikan DPR, mahasiswa boleh saja menggelar aksi demo, tetapi harus sportif dan tidak anarkis dan memberikan jalan, tidak menghambat jalannya proses demokrasi atau pelantikan DPR.

"Begitu juga nanti kita sama-sama menjaga pelantikan Presiden pada 20 Oktober mendatang. Apakah itu pelajar, apakah seluruh rakyat Indonesia yang masih menyayangi bangsa ini, yang menyayangi serta mencintai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) karena jelas ideologi kita sudah final yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, serta Bhinneka Tunggal Ika."

"Wahai kalian mahasiswa sebagai pewaris kepemimpinan ke depan, mari kita jaga bersama. Kalau yang tua ini sudah mau berhenti, jadi yang sudah tua dan pernah menjadi muda, yang mudah belum pernah menjadi tua. Jadi, harus yang muda, lebih menjaga kesatuan dan persatuan untuk masa depan kalian, bersama masa depan bangsa Indonesia dan anak cucu kita bersama ke depan."

"Saya sebagai Ketua Umum Barnus dimanapun masyarakat berada saat ini, dan anggota Barnus. Kita harus tetap menjaga kesatuan dan persatuan jangan sampai melakukan demo yang tidak sesuai dengan konstitusi."

"Sebagai Ketum Barnus dan juga teman-teman organisasi masyarakat lainnya dan partai politik, apakah pendukung pemerintah terpilih, partai politik yang mana pun itu. Saat ini, setelah Pemilu diumumkan, presiden dan wakil presiden terpilih sudah diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi, sehingga tidak ada lagi kosong satu, kosong dua."

Dia meminta seluruh partai politik agar bersama-sama memberikan pencerahan kepada seluruh warga partai, maupun ormasnya untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia ini.

"Selamat kepada seluruh teman-teman yang ikut berdemo, tetapi saya harapkan dan sarankan berdemo lah yang sesuai dengan konstitusi serta jangan anarkis, jangan melakukan daripada tindakan-tindakan yang bisa merusak fasilitas umum dan lain sebagainya."