Kiprah Insan Pers di Tengah Pandemi

Dalam standar perlindungan profesi wartawan itu disebutkan bahwa perusahaan bertanggungjawab atas apapun terkait dengan keselamatan wartawan atau termasuk pada...

Dialog Nusantara Petang yang disiarkan NUsantaraTV, hari ini menghadirkan edisi spesial yang mengangkat topik tantangan dan ancaman industri media di era pandemi covid-19.

Host Tasya Felder mencoba mengulik kondisi terkini pers Indonesia dan perkembangan ke depan bersama dua narasumber yakni Andi Ricardi Associated Press (AP) Senior Produser dan Imam Wahyudi Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI)

Hari ini 9 Februari 2021 merupakan Hari Pers Nasional. Tema pada hari pers tahun ini adalah Bangkit dari Pandemi, Jakarta Gerbang Pemulihan Ekonomi,  Pers sebagai Akselerator Perubahan.

Dalam sejarahnya pers tak lepas dari beragam persoalan yang terjadi pada bangsa ini sebagai garda terdepan untuk memberikan informasi.

Anda sudah sangat berpengalaman meliput daerah konflik. Apa persiapan yang harus dilakukan oleh seorang wartawan saat akan meliput di daerah konflik? 

Andi Ricardi Associated Press (AP) Senior Produser mengatakan untuk menjadi seorang wartawan itu memang punya tanggungjawab yang sangat besar dengan berbagai macam resikonya. Tapi kalau kita liputan di daerah konflik resiko akan menjadi semakin besar. Banyak sekali yang harus dilakukan wartawan ketika meliput di daerah konflik mulai dari persiapan baik secara fisik maupun mental. Kemudian ada juga persiapan-persiapan logistik yang kita butuhkan terutama safety gear kemudian kita juga harus begitu sampai di daerah konflik kita harus punya pengetahuan mengenai konflik yang terjadi. Sehingga pada saat kita liputan di daerah konflik kita punya pemahaman sehingga kita tahu apa yang harus kita lakukan.

Saya salah satu dari sedikit orang yang beruntung yang kebetulan punya kesempatan untuk meliput banyak hal banyak tempat. Di Indonesia semua sudah saya jalani mulai dari Timor Timur hingga Papua kemudian saya juga meliput ke Afganistan, Irak, Pakistan, Lebanon dan lain-lain. Hampir semua tempat-tempat konflik itu pernah saya datangi bahkan ada yang beberapa kali. 

Ketika anda mendapat penugasan untuk meliput ke daerah konflik apa yang membuat anda merasa sudah siap secara mental?

Pada awalnya tidak ada yang siap. Karena liputan di daerah konflik itu berbeda dengan liputan di tempat yang lainnya. Berbeda karena di daerah konflik akan melibatkan banyak sekali emosi. Saya juga awalnya tidak siap mental. Seiring waktu saya mulai 'menikmati' liputan di daerah konflik. Sehingga dengan sendirinya saya mulai bisa tune-in dengan situasi. 

Wartawan itu tugasnya adalah menyampaikan fakta tanpa melibatkan asumsi, opini ataupun tendensi. Jadi apakah informasi yang kita berikan kepada masyarakat akan berdampak negatif atau positif biarkan masyarakat menilainya.

Saya diancam itu sudah ratusan kali. Saya menerima banyak seklai ancaman dari hasil-hasil berita dan fakta yang saya sajikan. Bahkan saya harus memutus telepon rumah saya. Saya harus ke luar dari Indonesia untuk beberapa saat. Banyak orang-orang dengan tampang-tampang preman menyatroni rumah saya. Itu satu hal yang sudah biasa buat saya. 

Bagaimana pengalaman anda meliput di daerah bencana?

Imam Wahyudi Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) mengartikannya dengan meliput di daerah berbahaya. Apakah itu konflik, apakah itu bencana. Intinya sama dengan liputan-liputan lain dalam hal bersikap. Bersikap itu artinya bahwa kita posisinya adalah posisi sebagai jurnalis. Kemudian sebagai jurnalis kita juga sebagai manusia. Artinya bahwa manusia yang punya keterbatasan dan kerentanan. Oleh sebab itu pada saat kita mau masuk ke lingkungan berbahaya, perlu ada persiapan-persiapan. 

Persiapan bukan hanya terkait dengan pengetahuan tetapi juga dengan ketrampilan. Sesungguhnya itu harus kita pelajari. Kalau di tempat saya dulu kita membiasakan pada saat menggembleng orang itu pertama kali masuk ke lingkungan berbahaya. Kita ikutkan dia ke acara-acara kunjungan atau apapun yang melibatkan pihak ketiga misalnya palang merah. Sehingga paling tidak dia pada waktu masuk sudah punya semacam payung. 

Begitu dia sudah mulai berpengalaman kita embed atau ikutsertakan ke liputan yang melibatkan LSM yang lebih masuk ke grassroot. Sete;ah dia punya dua pengalaman itu baru kita lepas. 

Singkatnya adalah peliputan di daerah berbahaya apakah itu bencana atau konflik itu bukan sekadar liputan biasa tetapi perlu ada persiapan-persiapan. 

Sesungguhnya menjadi seorang jurnalis harus lengkap artinya lengkap dengan segala resikonya. Itu harus disadari betul oleh siapapun yang mau menjadi jurnalis. 

Persoalan ancaman, ancaman verbal kemudian ancaman riil sudah seringkali dialami pada saat masuk ke lingkungan berbahaya. Sebagai contoh, yang paling sulit itu pada saat kita meliput daerah konflik. Saya selalu pakai patokan. Pada saat dua pihak itu protes berarti kita sudah pas. 

Tadi kita sudah membicarakan bagaimana sepak terjang dari jurnalis di medan pertempuran, meliput daerah konflik juga meliput daerah yang berbahaya. Di mana yang kita hadapi adalah sesuatu yang nyata. Sementara di era pandemi ini yang kita hadapi adalah sesuatu yang tidak kelihatan. Apa yang kira-kira menjadi tantangannya? 

Andi Ricardi menyatakan sebagai jurnalis televisi memang  akan selalu ada di lokasi kejadian di manapun kita berada. Kalau kita liputan di daerah konflik saya rasa bukan satu hal yang sulit karena kita tahu apa yang kita hadapi, siapa musuh kita, siapa yang sedang berkonflik. Secara fisik kita bisa mencari jalan keluar untuk menyiasati situasi yang kita hadapi. Tetapi yang kita hadapi sekarang ini musuh yang tidak kelihatan sehingga kita tidak tahu di mana kita harus memposisikan diri menghadapi situasi seperti ini. Saya sebagai seorang kameramen saya masih turun ke lapangan, saya masih ke pamakaman, ke rumah sakit, berhubungan dengan pasien-pasien covid-19. Di mana resiko tertular itu memang besar. Namun sebagai seorang jurnalis yang memang perlu untuk menyampaikan informasi dari lapangan. Pertanyaannya adalah apakah kita kemudian kita tidak melakukan peliputan? Karena ada bahaya-bahaya yang tidak  kita ketahui yang kemungkinan kita bisa terpapar. 

Kita tetap melakukan peliputan tetapi kemudian juga protokol kesehatan yang diterapkan harus benar-benar kita lakukan secara disiplin. Seperti di kantor saya itu sebuah harga mati kalau kita liputan itu kita harus mempersiapkan semuanya mulai dari hazmat, sarung tangan karet, masker dan hand sanitizer serta lainnya. 

Yang paling penting adalah kita harus menjaga mind-set usahakan mind-set kita tidak terbebani oleh ketakutan-ketakutan atau tidak paranoid dengan apa yang kita hadapi. 

Bukan menyepelekan tetapi kita harus selalu berpikir positif. 

Senada dengan Andi, walau tak lagi meliput di lapangan namun Imam Wahyudi ingin menggarisbawahi soal mind-set. Soal bagaimana cara kita berpikir begitu masuk ke daerah-daerah yang berbahaya. Benar. Mind-set ini menjadi faktor terpenting. 

Pada saat menghadapi musuh yang tidak kelihatan seperti sekarang ini kalau pikiran kita was-was kita jadi rentan.  

Kalau tadi anda mengatakan bahwa ada tanggungjawab dari media tempat seorang jurnalis itu bekerja baik di tempat yang berbahaya. Kalau di masa pandemi ini dukungan apa yang harus diberikan oleh media tempat jurnalis itu bekerja? 

Imam Wahyudi menekankan yang harus diingat adalah bahwa wartawan terjun ke lapangan bukan mewakili dirinya pribadi tetapi dia mewakili publik yang dalam hal ini dia ditugaskan oleh kantornya  sebagai media yang memfasilitasi kerja dia.

Oleh sebab itu, menjadi penting bahwa media itu memang bertanggungjawab atas semua hal. Mulai dari peralatan dukungan seandainya terjadi sesuatu. Dan ini menjadi requirement dasar yang harus dipenuhi oleh media. Makanya dalam standar perlindungan profesi wartawan itu disebutkan bahwa perusahaan bertanggungjawab atas apapun terkait dengan keselamatan wartawan atau termasuk pada saat dia sedang mengalami masalah.

Jadi tidak ada ceritanya perusahaan lepas tangan seolah-olah itu resiko. Kita ke lapangan itu sebenarnya atas penugasan. 

Nusantara Petang hadir untuk kebutuhan anda mengenai berita-berita terupdate setiap harinya. Saksikan Nusantara Petang setiap hari Senin - Jumat jam 17.30 hanya di Nusantara TV

Login dengan
LIVE TV & NETWORK