Kesederhanaan Perayaan Imlek

Jadi pemaknaan Imlek itu adalah menyambut satu tahun yang baru dengan keberuntungan, hidup dan kesehatan yang lebih baik

Dilaog Nusantara Petang yang disiarkan NusantaraTV, Kamis (11/2/2021) menyajikan topik spesial yakni topik tentang perayaan Tahun Baru Imlek di era pandemi covid-19. 

Topik ini dibahas secara mendalam oleh Host tasya Felder bersama narasumber Peneliti dan Pengamat Budaya Dwi Woro Retno Mastuti.

Etnis Tionghoa akan merayakan Tahun Baru Imlek, besok Jumat 12 Februari 2021. Apa filosofi Imlek bagi etnis Tionghoa?

Imlek adalah tradisi perayaan tahun baru. Imlek itu merayakan tahun baru yang bisa dimaknai dengan sebuah keberkatan, keselamatan, kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang. Jadi pemaknaan Imlek itu adalah menyambut satu tahun yang baru dengan keberuntungan, hidup dan kesehatan yang lebih baik. Dan semua harus diawali dengan kegembiraan. Rasa syukur dengan berkumpul bersama keluarga.

Bagaiama sejarah Imlek di Indonesia?

Singkatnya, seiring dengan migrasi etnis Tionghoa dari Tiongkok ke Nusantara awalnya untuk mencari kehidupan yang baru. Tradisi Imlek terbawa oleh migrasi etnis Tionghoa ke Nusantara. 

Tradisi Imlek yang dibawa etnis Tionghoa ke berbagai daerah di Indonesia berbeda-beda. Mungkin di Jawa, Bali, Ternate itu berbeda-beda. Hanya satu mungkin yang seragam yaitu tradisi makanannya. Misalnya di Tangerang ada ikan bandeng. Kalau kue keranjangnya sama mungkin di semuanya. Tetapi kemudian para migran itu membawa tradisinya yang lama ke tempatnya yang baru dan kemudian berakulturasi dengan budaya lokal. Dan itulah awal Imlek di Indonesia. Sepertinya lebih meriah karena banyak kegiatan lain yang menyertakan warga lokal. Itu sudah terjadi bertahun-tahun lamanya dan tidak ada masalah. Tidak hanya dirayakan oleh warga Tionghoa tetapi juga masyarakat Indonesia pada umumnya. 

Walaupun ada beberapa tradisi yang memang asli dibawa dari etnis aslinya ke Indonesia tetapi terjadi pengembangan atau akulturasi di daerahnya masing-masing. Kalau tidak salah ibu sendiri adalah salah satu pendiri Rumah Cinta Wayang untuk memperkenalkan dan juga mengembangkan wayang Potehi? Bisa cerita sedikit tentang wayang Potehi?

Setelah saya melakukan riset tentang China-Jawa. Kemudian saya melihat banyak produk budaya yang juga dihasilkan oleh masyarakat Tionghoa seperti wayang, ketoprak kemudian barongsai, kuliner serta tradisi tulis dan lisan. 

Diantara semua tradisi itu saya melihat wayang Potehi sebagai satu bagian dari kekayaan warisan bangsa Indonesia. Sebenarnya saya lihat Potehi bukan di Indonesia melainkan di Jerman. Jadi ketika saya melihat Potehi tersebut di Jerman, saya spontan berkata pada diri sendiri ini kan punya Indonesia. Waktu itu Indonesia euforia dengan peraturan pemerintah jaman Orde Lama yang melarang budaya Tionghoa.

Kemudian saya cari di Indonesia ternyata ada pagelaran Potehi dekat rumah saya di klenteng Jatinegara dan saya ikut. Kemudian saya menulis buku tentang wayang Potehi. Di akhir buku itu saya menulis bahwa Potehi ini bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia. Harus dilestarikan. Kalau tidak akan punah. Harus dijaga keberlangsungannya karena dia menjaga Bhineka Tunggal Ika. 

Tetapi tunggu punya tunggu tidak ada reaksi, mungkin saya terlalu naif juga menunggu siapa yang mau baca buku itu. Akhirnya dalam perjalanan riset saya, saya membeli Potehi, saya membeli panggungnya, kenapa saya tidak membuat grupnya. Dan saya memberanikan diri untuk membuat grup wayang Potehi di bawah bendera Rumah Cinta Wayang. Artinya tidak hanya wayang Potehi saja yang akan punah tetapi banyak wayang lain yang akan punah. 

Rumah Cinta Wayang lebih ke milenial. Bagaimana anak muda mengenal wayang. Kampanye pelestarian wayang kita dorong dengan motto Rumah Cinta Wayang,  'Tak Wayang Maka Tak Sayang.

Wayang Potehi ini merupaakan salah satu dari kebudayaan ataupun tradisi dari etnis Tionghoa yang ada di Indonesia dan tentunya ada tradisi-tradisi lain yang hilang ketika pandemi melanda. Apa saja tradisi yang hilang di masa pandemi?

Saya beberapa kali mengikuti perayaan Imlek di keluarga Tionghoa. Memang meriah dan menyenangkan. Yang surprise adalah baju merah. Warna merah yang dominan digunakan dalam pernak-pernik Imlek bagi orang Tionghoa bermakna kebahagiaan. Ada juga yang menyatakan kejujuran ketulusan hati. Kalau orang bahagia itu kan berarti hatinya bersih tulus jujur dan di situ semua orang cheer ceria tidak menunjukan kesusahan positif dan itu sebetulnya terapi terbaik untuk melawan covid-19. Satu yang menurut saya di tengah pandemi ini warna merah mewakili sebuah kebahagiaan yang harus ditaati oleh kita semua untuk selalu happy berpikir positif. Jadi itu yang masih bisa dilakukan 

Kemudian apalagi tradisi-tradisi yang biasanya dilakukan saat Imlek tetapi tidak bisa kita lakukan karena pandemi covid-19?

Pasang kembang api. Maknanya mengusir roh jahat. Jadi setelah berkumpul di keluarga. Sementara kan kita diimbau untuk di rumah saja. Tetapi berkumpul dengan kekuarga inti. Tidak bisa lagi berkumpul dengan yang lain. Itu perubahan juga tidak bisa silaturahmi seperti halnya kalau kita Lebaran. Kita berkunjung ke sanak famili di hari pertama. Di hari kedua sudah tidak sah ditradisi Imlek berkunjung di hari kedua. Jadi betapa lelahnya. Berkumpul keluarga malam jam 12. Besok paginya baru berkunjung ke sanak-famili. Kemudian petasan. Biasanya pasang petasan untuk mengusir roh jahat. Roh jahat itu takut kalau ada suara ramai jadi dia tidak jadi datang. Lalu makanan yang sehat di tiap keluarga. Nah sekarang kalau pandemi mungkin menggunakan kurir aplikasi dan berdoa di klenteng. Karena itu memrlukan satu mobilitas yang cukup signifikan pergerakan ada kerumunan itu yang berubah 

Nusantara Petang hadir untuk kebutuhan anda mengenai berita-berita terupdate setiap harinya. Saksikan Nusantara Petang setiap hari Senin - Jumat jam 17.30 hanya di Nusantara TV

Login dengan
LIVE TV & NETWORK