Langka Gori, Gudeg Yogya Terancam Punah?

Nusantaratv.com - 16/07/2022 08:44

Ilustrasi sajian sayur gudeg, krecek, telur dan sambal.
Ilustrasi sajian sayur gudeg, krecek, telur dan sambal.

Penulis: Armansyah | Editor: Supriyanto

Nusantaratv.com – Selain sebagai Kota Pelajar, Yogyakarta juga disebut sebagai Kota Gudeg. Sudah puluhan tahun masakan Gudeg dikenal sebagai kuliner khas Yogyakarta.

Namun akhir-akhir ini sebutan Yogyakarta sebagai Kota Gudeg mulai terancam. Banyak pedagang Gudeg mulai ‘mengeluh’ kesulitan membuat sayur yang menjadi ikon kota Yogyakarta ini. 

Pasalnya ketersediaan buah nangka muda yang menjadi bahan baku sayur gudeg ini, di daerah Yogya semakin langka. Banyak pedagang Gudeg harus memesan buah nangka muda atau yang biasa disebut dengan Gori - bahasa Jawa - itu dari tempat yang jauh, bahkan hingga Sumatera.

Sayur Gudeg

Hal ini diungkapkan oleh budayawan Joko Kanigoro. Budayawan ini menyesalkan sikap pemerintah dan masyarakat Yogyakarta yang kurang memperhatikan ketersediaan gori atau nangka muda di daerah itu.

“Mungkin saja ke depannya gudeg ini akan terancam keberadaannya. Kondisi itu bisa dilihat dari ketersediaan bahan baku utamanya, yaitu gori, yang tidak bisa dipenuhi dari Yogyakarta. Gori untuk gudeg hampir seluruhnya didatangkan dari luar Yogyakarta,” keluh Joko, seperti dikutip dari inibaru.id Sabtu (16/7/2022).

Dia menambahkan, menurutnya Pemerintah Provinsi Yogyakarta juga seperti nggak membuat aturan untuk melindungi atau melestarikan pohon-pohon nangka. Banyak pohon nangka yang ditebang untuk pembangunan atau hal-hal lainnya.

“Pemerintah daerah harus membuat semacam aturan agar pohon atau kebun nangka tetap tersedia di Yogyakarta, agar pasokan bahan utama gudeg tetap terjaga,” saran Joko.

‘Impor’ dari Jateng dan Sumatra

Terkait dengan kelangkaan bahan baku nangka muda di Yogyakarta, Ketua Paguyuban Gudeg Wijilan Chandra Setiawan mengiyakannya. Dia mengatakan, selama ini pihaknya mendapatkan gori dari Jawa Tengah dan Sumatra.

“Sekarang nangkanya (diambil) dari Jawa Tengah. Kalau pas di Jawa Tengah tidak musim, pakai nangka dari Sumatra. Sebagian besar dari Lampung kalau dari Jawa kurang,” kata Chandra.

Dia pun mendukung ide Joko Kanigoro. Jika Yogyakarta bisa memenuhi ketersediaan nangka muda, tentu bisnis gudeg Jogja tetap bisa bertahan, bahkan bakal semakin bergairah karena mereka nggak perlu membayar lebih mahal untuk ongkos kirim bahan baku yang didatangkan dari jauh.

Sudah Sejak 2015
Omong-omong nih, kelangkaan nangka muda sebetulnya sudah mulai dirasakan masyarakat Yogyakarta sejak 2015. Keresahan itu sempat diungkapkan Pangadi, pedagang nangka yang biasa mangkal di Jalan Suroto, Kota Baru, Yogyakarta.

BBuah Nangka 

“Ya gimana, kebunnya udah nggak ada. Udah ‘ditanamin’ rumah semua,” jelas lelaki yang mengaku sudah berjualan nangka bersama istrinya sejak 1971 itu berang.

Awal-awal berjualan hingga beberapa tahun silam, dia mengaku masih bisa mendapatkan nangka dari Yogyakarta, salah satunya di sekitar Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Namun, saat ini dia terpaksa “mengimpor”-nya dari Batang dan Pekalongan lantaran sulit mendapatkannya di Yogyakarta.

Layaknya Joko dan Chandra, Pangadi pun setuju kalau pemda membuat aturan yang membuat kebun nangka kembali lestari di Yogyakarta. Kebutuhan ini, lanjutnya, nggak hanya diperuntukkan bagi penjual gudeg, tapi juga penjual minuman manis seperti es doger dan dawet.

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in