Hukum Menjual Daging Qurban dan Berikut Penjabarannya

Nusantaratv.com - 08/07/2022 20:07

Ilustrasi daging kurban (Net)
Ilustrasi daging kurban (Net)

Penulis: Nofi Ardiyanto | Editor: Supriyanto

Nusantaratv - Menjual daging qurban, ini merupakan suatu persoalan yang kerap kali menjadi pertanyaan bagi banyak orang dan tidak jarang bahkan hampir setiap tahunnya hal tersebut kerap kali menjadi pertanyaan bagi banyak orang. 

Pada dasarnya melakukan qurban merupakan bentuk pendekatan diri terhadap Allh SWT, yang dengan kata lain qurban merupakan suatu ibadah khusus dan tidak setiap saat bisa dilakukan. Dalam melakukan ibadah qurban biasanya setiap daging dari hewan qurban akan dibagikan antar sesama dengan gratis. Lantas bagaimana dengan hukum menjual daging qurbannya.?

Menurut mayoritas ulama berpendapat, jika menjual daging qurban itu diharamkan, bahkan tidak hanya daginya baik itu kulit, tulang maupun kukunya sekalipun tetap haram. Larangan menjual daging kurban itu sesuai dengan apa yang di sampaikan para ulama mazhab, karena apa yang sudah diqurbankan kepada Allah SWT maka sudah tidak boleh lagi dijual.

Seperti bagaimana diketahui, Dalil hukum menjual daging kurban haram diriwayatkan oleh Al Hakim, dimana diternakkan jika Rasulullah SAW bersabda: "Siapa menjual kulit hasil sembelihan qurban, maka tidak ada qurban baginya. (HR. Al Hakim)". 

Selain itu dikutip dari pendapat Ustaz Muhammad Saiyid Mahadhir Lc dalam bukunya berjudul 13 Hal yang Wajib Diketahui tentang Qurban, terbitan Rumah Fiqih Publishing menjelaskan, dari penjelasan hadits di atas ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab mengenai hukum menjual kulit maupun daging qurban.

Yang pertama menjual daging kurban adalah Haram karena : 

1. Jumhur ulama atau kesepakatan ulama menghukumi haram menjual daging ataupun kulit kurban. Ulama yang mengharamkan menjual daging qurban di antaranya Imam Malik. 

2. Dalam Kitab Al Mudawannah, Imam Malik menjelaskan, Tidak boleh membeli suatu barang dengannya, tidak juga menjual hewan qurban tersebut, akan tetapi semuanya disedekahkan atau dimanfaatkan.

3. Dalam pandangan ulama mazhab Imam Syafii juga menghukumi haram menjual daging maupun kulit qurban. Imam Nawawi salah satu ulama terkemuka mazhab Syafii menjelaskan. "Dalam madzhab kami tidak boleh menjual kulit hewan qurban sebagaimana tidak boleh menjual bagian apapun darinya" cetus Imam Nawawi.

4. Sedangkan ulama Mazhab Hambali, Imam Ahmad berkata, seperti yang ditulis oleh Imam Ibnu Qudamah "Tidak boleh menjualnya, tidak juga bagian darinya. Beliau berkata: Subhanallah, bagaimana mungkin ada yang menjualnya padahal hewan qurban tersebut sudah dipersembahkan untuk Allah SWT. Sebagaimana wakaf, maka apa yang sudah diperuntukkan untuk Allah swt tidak boleh dijual" ungkap Imam Ibnu Qudamah.

Sementara itu ada pula pendapat jika menjual daging qurban adalah makruh, seperti yang disampaikan sejumlah ulama berikut ini :

As-Sarakhsi dari madzhab Hanafi berpendapat hukum menjual kulit maupun daging qurban tidak sampai haram melainkan makruh.

Dalam kitabnya Bada’i', Imam Al-Kasani, juga dari madzhab Hanafi menjelasakan:

Tidak boleh menjual kulitnya, lemaknya, dagingnya, kepalanya, bulunya, rambutnya, susunya dengan sesuatu yang tidak bisa dimanfaatkan, dan tidak boleh memberi bagian apa pun dari hewan qurban tersebut sebagai upah kepada tukang jagal. 

"Jika seandainya menjualnya (terjadi), maka yang demikian tetap sah" menurut Imam Abu Hanifah dan Muhammad.

Direktur Rumah Fiqih Indonesia, Ustaz Ahmad Sarwat MA menjelaskan, hewan yang disembelih untuk qurban itu ditujukan untuk tiga hal, yaitu dimakan sendiri, dihadiahkan atau disedekahkan. 

HR Abu Musa al-Asfihani dalam Wadlaif mengatakan Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadist riwayat Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah membagi daging kurban menjadi tiga, sepertiga untuk keluarganya, sepertiga untuk fakir miskin dan tetangga dan sepertiga untuk orang meminta-minta.

Adapun panitia penyembelihan hewan qurban sesungguhnya secara syar'i tidak diisyaratkan untuk dibentuk, sehingga dari segi pembiayaan pun tidak dialokasikan dana secara syar'i. Hal ini berbeda dengan amil zakat, yang memang secara tegas disebutkan di dalam Al-Quran Al-Kariem sebagai salah satu mustahiq zakat.

Ali ra berkata, "Aku diperintah Rasulullah menyembelih kurban dan membagikan kulit dan kulit di punggung onta, dan agar tidak memberikannya kepada penyembelih." Dalam Bukhari Muslim.

Memberikan kulit atau bagian lain dari hewan kurban kepada penyembelih bila tidak sebagai upah, misalnya pemberian atau dia termasuk penerima, maka diperbolehkan. Bahkan bila dia sebagai orang yang berhak menerima kurban ini lebih diutamakan sebab dialah yang banyak membantu pelaksanaan kurban.

Dari uraian sejumlah pendapat dan hadis di atas dapat di simpulkan jika menjual daging kurban itu haram dan makruh, dimana Haram merupakan perkara yang dikerjakan akan memperoleh dosa dan jika ditinggalkan akan mendapatkan pahala. Sementara itu Makruh merupakan perkara yang dilarang tetapi larangan tidak bersifat pasti, lantaran tidak ada dalil yang menunjukkan hukum haramnya.

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in