KontraS Pertanyakan Polri yang Tak Ungkap Penyebab Tewasnya 8 Orang di Rusuh 22 Mei

KontraS Pertanyakan Polri yang Tak Ungkap Penyebab Tewasnya 8 Orang di Rusuh 22 Mei
Logo KontraS

Jakarta, Nusantaratv.com - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menilai rilis Polri atas peristiwa kerusuhan 21-22 Mei pada Selasa (11/6/2019) bias informasi dan mempertajam polarisasi. KontraS menganggap banyak hal penting yang tidak disampaikan Polri. Aparat disebut justru membuat kesimpulan bahwa sembilan korban tewas adalah perusuh, tanpa menjelaskan lebih detail peran dan keterlibatan mereka. Penegak hukum juga tak menjelaskan pelaku penembakan, penyebab kematian dan hasil rekonstruksi tempat kejadian perkara (TKP). 

"Tanpa penjelasan tersebut, maka kesimpulan itu bisa memunculkan asumsi di publik terkait pelaku penembakan," ujar 

Staf Biro Penelitian, Pemantauan, dan Dokumentasi KontraS, Rivanlee Anandar di kantornya, Rabu (12/6/2019).

Jatuhnya korban jiwa dalam kerusuhan 21-22 Mei, menurut KontraS seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah dan aparat penegak hukum, guna mengusut aktor yang terlibat serta bertanggungjawab. Sebab di satu sisi Polri menyatakan tidak menggunakan peluru tajam dalam menjaga keamanan kala itu. 

"Ada 8 orang tertembak (ditembak), 3 diantaranya adalah anak di bawah umur berusia 16, 17 dan 15 tahun. Polri tidak menjelaskan terkait proyektil yang ditemukan di tubuh korban dan TKP serta lokasi arah tembakan," kata dia. 

KontraS, kata Rivanlee juga memandang proses penegakan hukum kepolisian yang berat sebelah. Padahal, Polri sepatutnya menunjukkan independensi dan akuntabilitas sehingga tidak memunculkan bias infornasi. "Aparat kepolisian juga harus terbuka terkait pelanggaran hukum dan HAM yang dilakukan oleh personilnya atau oleh siapapun yang ikut bertanggungjawab. Tidak boleh ada impunitas hukum," tandasnya. 

Diketahui, Kepala Divisi Humas Polri bersama Kepala Pusat Penerangan TNI menyampaikan konferensi pers perihal perkembangan kerusuhan 21-22 Mei 2019, Selasa (11/6/2019). Konferensi pers yang digelar di Kantor Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, salah satunya memaparkan keterlibatan mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zen dalam rencana pembunuhan empat pejabat. (Rizk)