Epidemiolog: PPKM Tidak Efektif Karena Tes Minim

Di Jakarta isolasi dan karantinay tidak berjalan dengan baik.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mempertimbangkan pemberlakuan lockdown pada akhir pekan guna membendung penyebaran virus corona yang semakin hari semakin meningkat. Pemberlakuan ini menyusul kebijakan PSBB yang dinilai tak mampu menekan laju angka penularan virus covid-19.

Apakah kebijakan lockdown akhir pekan ini akan efektif?

Topik ini menjadi pembahasan Host Muhammad Irsal bersama narasumber Epidemiolog Universitas Indonesia, DR dr Tri Yunis Miko Wahyono MSc dalam Dialog Nusantara Siang yang disiarkan NusantaraTV, Kamis (4/2/2021).

Mana yang paling efektif lockdown yang diberlakukan di daerah yang banyak kasusnya tapi tidak terkonfirmasi dan tidak terdata atau daerah yang masih minim penularannya sehingga bisa dilokalisir?

Kalau kasusnya sedikit berarti lockdownnya lebih efektif sangat baik seperti Vietnam baru 200 kasus langsung melakukan lockdown sebulan sudah selesai. Malaysia melakukan lockdown 3,5 bulan kasusnya 1000-an. 

Bayangkan kalau lockdown dengan kasus yang lebih sedikit maka akan lebih singkat maka akan lebih efektif. Sementara kalau lockdown dilakukan pada kasus yang lebih banyak atau tidak terkonfirmasi maka akan lebih lama. Karena harus tetap melakukan konfirmasi. Jumlah tesnya harus semaksimal mungkin karena tujuan lockdown adalah mengurangi penularan. Kita harus tahu di awal lockdown berapa kasus dan di akhir lockdown berapa kasus.

PPKM dinilai tidak efektif karena tes kita belum maksimal. Kita mulai dengan jumlah kasus 1 jutaan kemudian tambahannya adalah 10 ribu atau 14 ribu kemudian setelah dilakukan PPKM tetap 10 ribu. Padahal kalau kita tahu pada awal penularan dengan tes yang maksimal seandainya kita tahu jumlah setiap harinya ada 18 ribu kasus kemudian menurun menjadi 15 ribu tetap ada pengaruhnya PPKM ini. Karena itu tes harus maksimal. 

India dapat meminimalisir penularan dengan meningkatkan tes kalau di Indonesia sendiri seberapa banyak kekurangan tes kita untuk men-tracing orang-orang yang belum terkonfirmasi?

Berdasarkan arahan WHO tes itu harus 1 per 1000 orang. Di Indonesia ada 270 juta bayangkan jumlah tes yang harus dilaksanakan. Berarti 2.700.000 tes dalam satu pekan. Di Indonesia sudah bisa mencapai 30 ribu tes per hari belum mencapai standar tes WHO. Masih kurang banyak. Jadi kiyta baru mendeteksi 10 sampai 15 ribu sehari. 

Kemampuan deteksi ini sangat membantu sehingga orang-orang yang dites bisa diisolasi. Semakin banyak kasus yang bisa dideteksi dan diisolasi dengan baik bisa memutus penularan.

Sebenarnya Jakarta sudah punya kemampuan yang baik dalam melakukan tes karena sudah melampaui standar WHO. Tes kalau disertai dengan isolasi yang baik maka pelan-pelan jumlah kasus akan menurun. Jadi di Jakarta isolasi dan karantinay tidak berjalan dengan baik. Walaupun ada Peraturan Daerah-nya. 

Nusantara Siang hadir untuk kebutuhan anda mengenai berita-berita terupdate setiap harinya. Saksikan Nusantara Petang setiap hari Senin - Jumat jam 11.00 WIB hanya di Nusantara TV   

 

Login dengan
LIVE TV & NETWORK