Politikus PDIP Sebut Globalisasi Rusak Industri Gula Nasional

Globalisasi menuru Hendrawan hanya melahirkan marjinalisasi
Mochammad Rizki - Ekonomi,Selasa, 10-12-2019 18:28 WIB
Politikus PDIP Sebut Globalisasi Rusak Industri Gula Nasional
Hendrawan Supratikno dalam diskusi sekaligus bedah buku 'Ekonomi Politik Gula'. (Elvan J. Siagian)

Jakarta, Nusantaratv.com - Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) Hendrawan Supratikno menilai globalisasi yang berlangsung di era sekarang memiliki efek samping. Seperti dampak negatif yang juga berlangsung di Indonesia.

Baca juga: Rocky Gerung Bilang Jokowi Tak Paham Pancasila, PDIP: Cari Sensasi

"Proses globalisasi ini hanya menghasilkan marjinalisasi. Kalau istilah yang sering saya bilang gembelisasi," ujar Hendrawan di diskusi serta bedah buku 'Ekonomi Politik Gula' karya Umar Basalim, di Gedung Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta Pusat, Selasa (10/12/2019).

Globalisasi ini sedikit-banyak juga merugikan perekonomian Indonesia. Termasuk menyasar industri gula nasional, hingga menyebabkan produsen lokal tak mampu bersaing dengan gula impor.

"Dulu Fahri Hamzah anggota DPR dari PKS, sekarang dari Gelora, minta lima pabrik gula milik pemerintah ditutup. Daripada rakyat harus membayar inefisiensi," kata profesor bidang ekonomi ini.

Selain berlakunya satu harga, globalisasi juga disebut merusak sendi-sendi kehidupan lain. Tak terkecuali politik. Saat ini, kata dia kesempatan terjun di politik khususnya menjadi wakil rakyat, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki modal mencukupi secara materil.

"Jadi masyarakat yang menang terus-terusan menang. Yang kalah ya akan terus kalah," jelasnya.

"Saya dulu minta liberalisasi perdagangan harus seizin DPR. Karena itu dampaknya luar biasa. Tapi Marie Pangestu (Menteri Perdagangan saat itu) justru mengatakan harus mempercepat liberalisasi perdagangan, perekonomian, globalisasi," imbuh anggota Komisi XI DPR.

Sementara menurut Umar, terdapat pergeseran luar biasa dalam industri gula nasional akibat globalisasi atau liberalisasi, seperti perubahan status produk pangan yang tadinya produk publik menjadi privat.

Melalui regulasi World Trade Organization (WTO)/AoA yang telah diratifikasi melalui UU No. 7 Tahun 1994, membuat Indonesia yang tadinya negara berkembang eksportir gula, kini bergeser menjadi importir bahan pangan tersebut. Peran negara juga kian menipis.

"Awalnya dominan peran negara. Sekarang jadi peran swasta yang dominan. Walau masih ada sedikit peran mengatur atau intervensi negara dalam persoalan pangan," ujarnya.

Indonesia saat ini juga menjadi negara importir gula terbesar di dunia. Mengingat Uni Eropa yang merupakan pengimpor gula nomor satu, terdiri dari beberapa negara. Padahal dulu bersama Brazil, kata dia Indonesia menjadi eksportir gula.

Di Indonesia sendiri, impor gula meningkat seiring berlangsungnya pemilu atau pilkada.

Meski begitu, bukan tak ada upaya dalam melawan liberalisasi produk pertanian atas nama ketahanan pangan atau food security itu.

"Ada namanya food sovereignty atau kedaulatan pangan. Istilah atau konsep ini muncul disponsori oleh petani Spanyol," tandasnya.

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0