Edhy Prabowo: Jangankan Dihukum Mati, Lebih dari Itu Pun Saya Siap

Usai menyampaikan klaim soal kinerjanya, mendadak Edhy Prabowo angkat bicara perihal wacana hukuman mati. 

Mantan Menteri KKP Edhy Prabowo/ist

Jakarta, Nusantaratv.com-Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengklaim telah melaksanakan tugasnya dengan baik sebelum akhirnya ditangkap KPK karena urusan suap-menyuap. 

Hal itu disampaikan Edhy Prabowo usai menjalani pemeriksaan di KPK, Senin (22/2/2021). 

"Anda sendiri harus catat berapa PNBP yang kita peroleh selama 3 bulan itu, ada 40 miliar sudah terkumpul. Bandingkan dengan peraturan yang lama, seribu ekor hanya Rp 250. Di zaman saya, 1 ekor seribu ekor minimal, makanya terkumpul uang itu," ujar Edhy Prabowo dikutip dari detik.

"Saya tidak bicara lebih baik atau tidak. Saya ingin menyempurnakan. Intinya adalah setiap kebijakan yang saya ambil untuk kepentingan masyarakat. Kalau atas dasar masyarakat itu harus menanggung akibat akhirnya saya dipenjara itu sudah risiko bagi saya," jawab Edhy Prabowo.

"Banyak peluang korupsi, Anda lihat izin kapal yang saya keluarkan ada 4 ribu izin dalam waktu 1 tahun saya menjabat. Bandingkan yang tadinya izin sampai 14 hari, saya bikin hanya 1 jam. Tanya sama pelaku usahanya, jangan tanya ke saya," imbuhnya.

Usai menyampaikan klaim soal kinerjanya, mendadak Edhy Prabowo angkat bicara perihal wacana hukuman mati. 

"Sekali lagi kalau memang saya dianggap salah saya tidak lari dari kesalahan, saya tetap tanggung jawab. Jangankan dihukum mati, lebih dari itu pun saya siap, yang penting demi masyarakat saya. Saya tidak bicara lantang dengan menutupi kesalahan, saya tidak berlari dari kesalahan yang ada. Silakan proses peradilan berjalan, makanya saya lakukan ini. Saya tidak akan lari dan saya tidak bicara bahwa yang saya lakukan pasti bener, nggak," tegasnya.

Baca juga: Koruptor Tidak Bisa Dijatuhi Hukuman Mati

Diketahui Edhy Prabowo telah ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan kasus suap-menyuap terkait izin ekspor benih lobster. Kasus ini juga telah menjerat enam tersangka lain yaitu  Safri sebagai mantan staf khusus Edhy Prabowo, Andreau Pribadi Misanta sebagai mantan staf khusus Edhy Prabowo, Siswadi sebagai pengurus PT Aero Citra Kargo (PT ACK), Ainul Faqih sebagai staf istri Edhy Prabowo, Amiril Mukminin sebagai sekretaris pribadi Edhy Prabowo, serta seorang bernama Suharjito sebagai Direktur PT DPP.

Dari keseluruhan nama itu, hanya Suharjito yang ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap, sisanya disebut KPK sebagai penerima suap

Tak lama berselang setelah tertangkapnya Edhy Prabowo, KPK juga menangkap tangan mantan Menteri Sosial Jualiari Batubara dalam kasus dugaan korupsi bansos covid-19. Wacana hukuman mati terhadap Edhy Prabowo dan Juliari Batubara sempat dilontarkan oleh Wamenkumham Edward Omar Syarief Hiariej. Alasannya, karena keduanya melakukan tindak pidana korupsi di saat pandemi covid-19 serta dinilai menyalahgunakan amanah jabatan sebagai menteri. 

like
dislike
love
funny
angry
sad
wow
Login dengan
LIVE TV & NETWORK