KPK sita Uang Rp8,6 Miliar Terkait Kasus Gratifikasi Bupati Langkat

Nusantaratv.com - 20/01/2023 14:34

Dokumentasi - Terpidana mantan Bupati Langkat Terbit Rencana Perangin Angin (kiri) berjalan menuju mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin (9/1/2023). Terbit Rencana Perangin Angin yang kini menjalani hukuman karena kasus korupsi pada proyek di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat Tahun 2020 - 2022, kembali menjalani pemeriksaan sebagai tersangka kasus dugaan gratifikasi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). ANTARA FOTO/Reno Esnir/tom.
Dokumentasi - Terpidana mantan Bupati Langkat Terbit Rencana Perangin Angin (kiri) berjalan menuju mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin (9/1/2023). Terbit Rencana Perangin Angin yang kini menjalani hukuman karena kasus korupsi pada proyek di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat Tahun 2020 - 2022, kembali menjalani pemeriksaan sebagai tersangka kasus dugaan gratifikasi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). ANTARA FOTO/Reno Esnir/tom.

Penulis: Alber Laia

Nusantaratv.com - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita Rp8,6 miliar sebagai barang bukti dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi penerimaan gratifikasi dengan tersangka Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Perangin Angin (TRP).

"sejumlah 8,6 miliar rupiah disita dari rekening bank tersangka dan pihak terkait lainnya," kata Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

Ali menuturkan uang sitaan tersebut akan dijadikan salah satu barang bukti dalam penyidikan kasus tersebut.

"Penyitaan uang sejumlah 8,6 miliar rupiah sebagai barang bukti yang diduga memiliki keterkaitan dengan perkara ini," ujarnya.

Selain penyitaan terhadap uang tersebut, penyidik KPK juga memeriksa dua orang saksi untuk dimintai keterangan dalam dugaan tindak pidana gratifikasi tersebut.

Dua saksi tersebut yakni atas nama Lina selaku Direktur Utama PT Sinar Sawit Perkasa dan atas nama Laila Subank selaku staf Bank Sumut.

"Kedua saksi hadir dan didalami pengetahuannya antara lain terkait dengan dugaan adanya aliran penerimaan uang sebagai gratifikasi oleh tersangka TRP dari beberapa pengusaha yang mengelola perkebunan kelapa sawit," kata Ali.

KPK awalnya menjadwalkan pemeriksaan terhadap tiga saksi, namun satu orang saksi atas nama Arie Bowo Leksono tidak hadir sehingga akan dilakukan pemanggilan ulang.

Diketahui, KPK kembali menetapkan Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Perangin Angin (TRP) sebagai tersangka kasus dugaan korupsi penerimaan gratifikasi dan turut serta dalam pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemkab Langkat, Sumatera Utara.

Pasal yang disangkakan terhadap Terbit adalah Pasal 12B dan Pasal 12i Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi.(Ant)

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in