Wapres Ma'ruf Minta Kementan Tidak Hanya Fokus Pada Surplus Beras

Nusantaratv.com - 25/01/2023 12:35

Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyampaikan pernyataan kepada wartawan didampingi Juru Bicara Wakil Presiden Masduki Badlowi (paling kiri), Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi (kedua dari kiri) dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (paling kanan). ANTARA/Desca Lidya Natalia
Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyampaikan pernyataan kepada wartawan didampingi Juru Bicara Wakil Presiden Masduki Badlowi (paling kiri), Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi (kedua dari kiri) dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (paling kanan). ANTARA/Desca Lidya Natalia

Penulis: Habieb Febriansyah

Nusantaratv.com - Wakil Presiden Ma'ruf Amin meminta agar Kementerian Pertanian tidak hanya fokus pada surplus beras, namun kepada jumlah produksi dari tahun ke tahun.

"Saya minta fokus kita agar jangan hanya pada surplus-nya saja, tetapi juga pada besaran angkanya. Harapannya jumlah surplus terus meningkat dari tahun ke tahun, artinya produksi beras juga meningkat dari tahun ke tahun," kata Wapres Ma'ruf Amin di Jakarta, Rabu.

Wapres menyampaikan hal tersebut saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pembangunan Pertanian tahun 2023 Kementerian Pertanian dengan tema "Memperkuat Sektor Pertanian Sebagai Pengendali Inflasi Dalam Menghadapi Krisis Pangan Dunia".

"Berdasarkan data BPS, menurut Wapres, memang selalu surplus setiap tahun. Namun perlu menjadi perhatian, bahwa jumlah surplus beras cenderung menurun dari tahun ke tahun, dari 4,37 juta ton pada 2018 menjadi 1,74 juta ton pada 2022," ungkap Wapres.

Menghadapi kondisi tersebut, Wapres Ma'ruf meminta agar Kementerian Pertanian mengidentifikasi komoditas pangan yang tepat dalam menghadapi krisis pangan dunia serta fokus mendorong pengembangannya, termasuk penetapan target produksi dan lokasinya.

"Beban sektor pertanian cukup berat. Sektor ini harus mampu menyediakan pangan bagi lebih dari 275 juta jiwa di Indonesia. Ketersediaan pangan dan stabilitas harga pangan menjadi persoalan kritikal yang harus senantiasa dikelola dengan baik, seiring meningkatnya tren pertumbuhan penduduk," tambah Wapres.

Meski inflasi di Indonesia dalam batas terkendali yaitu sebesar 5,51 persen pada Desember 2022, Wapres menyebut tantangan penyediaan pangan ke depan semakin berat.

"Belum semua sektor pulih dari pandemi, termasuk produksi dan distribusi pangan global. Dampak perubahan iklim dan iklim ekstrem yang sangat sulit diprediksi. Begitu pula tekanan geopolitik dunia yang menyebabkan harga pangan melambung, serta memicu krisis pangan global," jelas Wapres.

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan sektor pertanian menjadi salah satu sektor utama tumpuan ekonomi Indonesia pada 2022.

BPS menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2022 mencapai 5,72 persen dengan didukung tiga sektor utama yaitu industri, pertambangan, pertanian yang berkontribusi terhadap PDB mencapai 66,54 persen.

Pertumbuhan PDB menurut lapangan usaha pada sektor pertanian di triwulan 3-2022 tumbuh meyakinkan dengan nilai 1,65 persen (y-on-y), dengan andil kontribusi PDB sektor pertanian mencapai 12,91 persen. Pertanian sejauh ini juga menjadi sektor paling banyak menyerap tenaga kerja yaitu sebesar 28,61 persen.(Ant)

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in