Target Surplus Beras 2045, PUPR Bangun 61 Bendungan

Nusantaratv.com - 19/06/2022 21:45

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. (Net)
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. (Net)

Penulis: Yusuf

Nusantaratv.com - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melanjutkan penyelesaian pembangunan 61 bendungan hingga 2024. Ini dilakukan guna tambahan pasokan air irigasi lahan pertanian di seluruh Indonesia.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menjelaskan dengan tambahan suplai air tersebut, Indonesia bakal memenuhi ketahanan pangan nasional.

Menurut Basuki, kehadiran bendungan di seluruh Tanah Air telah meningkatkan indeks pertanaman, sehingga hasil produksi beras secara nasional juga meningkat. Dalam tiga tahun terakhir, Indonesia surplus beras sekitar 3 juta ton dan tidak impor beras lagi.

"Kehadiran bendungan meningkatkan indeks pertanaman (IP) yang sekarang ini rata-rata nasional BPS sebesar 147 persen dengan air irigasi dari 231 bendungan. Dengan tambahan 61 bendungan bisa kita naikkan IP menjadi 200 persen," ujar Basuki, Minggu (19/6/2022). 

Basuki berharap, tambahan 29 bendungan yang sudah tuntas dan 32 bendungan yang masih dalam proyek pembangunan dapat meningkatkan indeks pertanaman menjadi 200 persen. Sehingga, produksi beras nasional dapat mencapai 40 juta ton pada 2045 dan Indonesia bisa surplus beras hingga 10 juta ton.

Salah satu bendungan yang dibangun sejak 2015 hingga 2020 adalah Bendungan Sindangheula berlokasi di Kabupaten Serang, Provinsi Banten dengan biaya Rp458,9 miliar dan telah diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden Jokowi pada 4 Maret 2021.

Bendungan Sindangheula memiliki kapasitas tampung 9,3 juta m3 dengan manfaat irigasi 1.289 ha, air baku 800 liter per detik, dan potensi pembangkit listrik 0,4 MW.

Staf Ahli Menteri PUPR Bidang Teknologi, Industri dan Lingkungan Endra S. Atmawidjaja menjelaskan, guna meningkatkan produktivitas pertanian tanaman pangan, pemerintah melakukan dua strategi utama, yakni meningkatkan konversi padi ke beras dan meningkatkan indeks pertanaman.

"Meningkatkan indeks pertanaman dari 143 persen menjadi 200 persen dengan menyediakan tambahan pasokan air irigasi melalui pembangunan 61 bendungan dari 2015 hingga 2024," tuturnya. 

Endra menjelaskan hingga 2015, layanan air irigasi dari 231 bendungan mencapai 10,6 persen atau setara 761 ribu ha. Dengan tambahan 61 bendungan pada 2024 maka layanan air irigasi dari 292 bendungan akan mencapai 19,3 persen atau setara 1,4 juta ha sawah irigasi.

Dirinya pun mengungkapkan, guna mengantisipasi krisis pangan global, Indonesia akan memfokuskan pada 7 komoditas pangan utama, yaitu beras, jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai, dan sorgum.

Karenanya, pada saat ini tengah dikembangkan beberapa sentra produksi tanaman pangan melalui pengembangan food estate, yakni di Sumatera Utara dengan target luasan 20 ribu ha dengan komoditas bawang merah dan bawang putih.

Kemudian, di Kalimantan Tengah dengan target luasan 29 ribu ha dengan komoditas utama padi dan jagung.

"Selain itu juga ada di Nusa Tenggara Timur dengan target luasan 10 ribu ha dengan komoditas padi, jagung, dan sorgum khususnya di Waingapu, di Papua dengan target luasan 210 ribu ha di Merauke untuk komoditas padi dan 3.000 ha di Kabupaten Keerom/Jayapura untuk komoditas jagung, dan di Sulawesi Tengah dengan target luasan 15 ribu ha, untuk komoditas jagung dan kedelai," tandas Endra.

0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in