Tantangan Sektor Informal dan Penguasaan Bahasa Asing Kunci Utama Daya Saing SDM Indonesia

Tantangan Sektor Informal dan Penguasaan Bahasa Asing Kunci Utama Daya Saing SDM Indonesia

Nusantaratv.com - 12 Oktober 2026

Peneliti Senior Lembaga Demografi FEB UI, Turro Selrits Wongkaren, S.E, M.A, Ph.D dalam program Merah Putih Paradoks Indonesia di Nusantara TV
Peneliti Senior Lembaga Demografi FEB UI, Turro Selrits Wongkaren, S.E, M.A, Ph.D dalam program Merah Putih Paradoks Indonesia di Nusantara TV

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Peneliti Senior Lembaga Demografi FEB UI, Turro Selrits Wongkaren, S.E, M.A, Ph.D menyoroti dinamika angkatan kerja Indonesia yang sebagian besar masih terserap di sektor informal.

Hal itu disampaikan Turro saat hadir sebagai pembicara dalam program Merah Putih Paradoks Indonesia di Nusantara TV, Jumat (9/10), yang dipandu Host Muhammad Irsal.

Ia menyebut dari sekitar 155 juta angkatan kerja dan 148 juta orang yang bekerja, sistem pendidikan vokasi dinilai masih cenderung berfokus menyiapkan tenaga kerja untuk sektor formal, padahal elastisitas ekonomi kerap menggeser pekerja ke sektor informal.

Turro menjelaskan bahwa ketidakseimbangan (mismatch) pasar kerja terjadi dalam dua bentuk, yakni overqualified dan underqualified.

Ketika terjadi kelangkaan (shortage) SDM berkeahlian khusus, dunia industri terpaksa menurunkan kualifikasi standar rekrutmennya.

Selain itu, ia menggarisbawahi bahwa hambatan terbesar tenaga kerja Indonesia untuk bersaing di tingkat global bukanlah sekadar keterampilan teknis, melainkan penguasaan bahasa asing.

"Kita harus ingat bahwa angkatan kerja kita sekitar 155 juta orang dan yang bekerja 148 juta orang itu tidak semuanya formal. Kalau kita mau bicara persaingan global, kendala utama kita bukan cuma keterampilan, tapi bahasa. Data menunjukkan di Indonesia hanya 6% yang menguasai bahasa asing, di Jakarta 12%, dan tertinggi Bali 29%. Kita seringkali kalah dari Filipina hanya karena kemampuan bahasa Inggris mereka lebih baik," kata Turro.

Turro juga mendorong perubahan paradigma agar generasi muda tidak ragu mengambil jalur sekolah keahlian (trade school).

Di negara maju seperti Amerika Serikat, profesi teknisi teruji seperti ahli kelistrikan atau pengelasan bersertifikat justru memberikan imbalan hasil (return) ekonomi yang jauh lebih tinggi dibanding lulusan beberapa jurusan sarjana akademis.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close