Tambah Seram! Rumah Bekas Syuting KKN di Desa Penari Dijual Murah!

Nusantaratv.com - 24/05/2022 12:08

Rumah bekas lokasi syuting KKN di Desa Penari dijual. (Kumparan.com)
Rumah bekas lokasi syuting KKN di Desa Penari dijual. (Kumparan.com)

Penulis: Armansyah | Editor: Supriyanto

Nusantaratv.com – Film KKN di Desa Penari sukses besar dengan meraup penonton lebih dari 6 juta orang sejak pertama tayang. Bahkan, film ini juga sukses bikin kehebohan yang sama di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Banyak orang yang bahkan sampai penasaran dengan bekas lokasi syuting dari film ini.

Meski kisah cerita KKN di Desa Penari terjadi di daerah Jawa Timur, namun pengambilan gambar film ini dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Beberapa lokasi syuting yang cukup terkenal adalah Jembatan Plunyon Kali Kuning Sleman, Batu Kapal Bantul, dan Rumah yang ada diperkebunan di Pedukuhan Ngluweng, Kelurahan Ngleri, Kapanewon Playen, Gunungkidul.

Nah, cerita soal rumah di Ngluweng ini cukup menarik. Soalnya, ada kabar kalau rumah dengan ukuran 8 x 12 meter ini jadi makin menyeramkan setelah dipakai syuting film KKN Desa Penari ujar pemiliknya. Dari informasi terbaru rumah ini akan dijual dengan harga yang cukup murah, yakni Rp 60 juta, dikutip dari inibaru.id.

“Sekitar dua tahun lalu syutingnya, sebelum Covid-19, November 2019. Syuting di sini sekitar sebulan,” jelas warga Ngluweng, Danuri, Rabu (18/5/2022).

Saat itu, Mbah Ngadiyo dan istrinya masih tinggal di rumah berdinding kayu dan bambu tersebut. Tapi, beberapa bulan setelahnya, keduanya pindah ke Kelurahan Banaran, Playen.

“(Ngadiyo) pindah sekitar 1,5 tahun. Ya kemungkinan itu (rumahnya jadi seram) setelah syuting. Yang punya rumah kemudian sakit dan tinggal bersama anaknya di Kelurahan Banaran, Playen,” lanjut Danuri.

Tak lama kemudian Mbah Ngadiyo meninggal. Istrinya pun enggan untuk tinggal di rumah tersebut sendirian. Ia mengaku rumahnya jadi lebih menakutkan usai dijadikan tempat syuting. Untungnya, uang sewa dari kru film cukup banyak sehingga istri Mbah Ngadiyo sampai bisa membeli properti lain berupa tanah.

Banyak Warga Berperan Jadi Figuran
Nggak hanya cerita soal rumah bekas syuting film KKN di Desa Penari yang bikin heboh, pengakuan warga yang jadi figuran film ini juga cukup menarik. Salah satunya adalah cerita laki-laki berusia 51 tahun bernama Subardo yang dibayar Rp 75 ribu sekali syuting.

“Saya itu didapuk jadi hantu,” jelas Subardo.

Lucunya, dia nggak boleh menghapus make-up hingga 24 jam. Bersama dengan figuran lainnya, mereka harus menunggu giliran syuting di dalam bus dengan AC yang terus menyala agar make-up-nya nggak luntur.

Subardo, warga yang ikut berperan sebagai figuran di film KKN di Desa Penari. (Suara.com)

“Kasihan yang make-up-nya separuh wajah. Honornya sama tapi lebih susah,” jelasnya.

Keluarganya juga ada yang ikut main di film tersebut. Kedua mertuanya dan ayahnya juga mendapatkan peran hantu. Sementara itu, ibunya berperan sebagai nenek yang menjemur kain. Tetangga-tetangga lain juga mendapatkan peran yang berbeda. Total, ada 20 orang yang dilibatkan.

Yang menarik, Sukardi mendapatkan tugas ganda dalam pembuatan film ini. Nggak hanya ikut berakting sebagai warga pengumpul kayu dan harus melakukan pengambilan gambar tiga kali. Dia juga diminta untuk menjaga alat-alat syuting film pada malam hari dengan warga lainnya. Untungnya, honor tugasnya cukup besar, yakni Rp 2 juta per orang.

Ngomong-ngomong kamu berminat beli rumah tersebut ngga? 

0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in