Syawalan: Tradisi Unik Seminggu Usai Idul Fitri yang Hanya Ada di Nusantara

Nusantaratv.com - 08/05/2022 13:31

Tradisi Syawalan
Tradisi Syawalan

Penulis: Armansyah | Editor: Supriyanto

Nusantaratv.com – Bukan Indonesia namanya kalau tidak kaya akan berbagai macam tradisi dan budaya. Salah satunya adalah tradisi Syawalan setelah Hari Raya Idul Fitri. Tradisi ini identik atau Indonesia banget karena tidak ada di negara lain. Lantas seperti apa Tradisi Syawalan tersebut? Berikut ulasan lengkapnya.

Makna Syawalan
Dalam pengertian Indonesia, Syawalan berarti pertemuan beberapa orang yang sudah berencana untuk bersilaturahim dan ikrar saling meminta maaf sekaligus merenda hidup dan langkah baru yang lebih baik dimasa depan.

Disebut syawalan karena pertemuan tersebut utamanya dilaksanakan di bulan Syawal, setelah bulan Ramadhan, atau bulan ke-10 dalam kalender tahun Hijriyah.

Tradisi Syawalan ini sudah merakyat dan meng-Indonesia. Artinya kegiatan ini dikenal dan dilaksanakan di tingkat rakyat jelata sampai ke istana negara, dan jadi salah satu kegiatan khas Indonesia. Karenanya, kita tak akan menjumpai kegiatan serupa di Tanah suci Saudi Arabia atau lainnya.

Syawalan ini juga sering disebut dengan istilah Halal Bihalal atau Lebaran. Halal bil Halal, dengan harapan bisa saling memaafkan satu sama lain dan menghalalkan segala kesalahan yang mungkin telah diperbuatnya untuk kemudian merecanakan kehidupan lebih baik dimasa mendatang.

Disebut lebaran karena dari kata bahasa Jawa Lebar yang berarti sesudah. Maksudanya yaitu sesudah selesainya umat islam melaksanakan ibadah suci di bulan Ramadhan.

Sebagaimana kita ketahui, dalam bulan Ramadhan umat Islam melaksanakan ibadah puasa ditambah beberapa rangkaian ibadah lainnya. Seperti shalat (shalat wajib dan sunnah Taraweh), Zakat (Fitrah, Maal maupun shadaqah), I’tikaf, Tadarus al-Qur’an dan diakhiri dengan takbir (mengagungkan Asma Allah) serta shalat ‘Idul Fitri (Shalat Hari Raya kembali ke Fitrah).

Ramadhan bisa diartikan sebagai panas yang membara atau bulan Pembakaran (penataran, penggodogan). Sedangkan bulan Syawal (sebagai peningkatan), maka ‘Idul Fitri diharapkan bisa kembali kepada fitrah manusia yang tidak sekedar suci tetapi lebih dalam dari itu, bagai bayi yang baru lahir.

Bayi serupa ini bentuk kepolosan, keikhlasan dan siapapun yang memandangnya akan merasa senang. Tangis bayi yang baru lahir akan membahagiakan semua orang, terutama ibu yang telah mengandungnya dalam keadaan Wahnan’ala wahnin (sangat berat).

Oleh karenanya, senyum ataupun tangis bahagia manusia yang fitrah akan menjadi dambaan setiap orang yang telah berjuang sunggguh-sungguh untuk menaklukan hawa nafsunya di bulan Ramadhan.

Tradisi Syawalan di Berbagai Daerah
Sebagai negara Bhineka Tunggal Ika, Indonesia memiliki berbagai adat istiadat dan tradisi yang berbeda-beda. Perbedaan ini membuat Indonesia menjadi negeri yang unik. Salah satu keragaman tradisi ini adalah saat menyambut Bulan Syawal. Berikut adalah beberapa tradisi Syawalan dari beberapa daerah di Indonesia yang berhasil dirangkum nusantaratv.com dari berbagai sumber.

1. Grebeg Syawal Kraton Yogyakarta

Grebeg Syawal Yogyakarta dimulai sekitar tahun 1725 sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Grebeg Syawal ini menjadi symbol berpadunya budaya Jawa dan ajaran Islam di Yogyakarta.

Grebeg Syawal diawali dengan iring-iringan prajurit Kraton Yogyakarta yang mengawal lima gunungan berisi aneka ragam hasil bumi. Iring-iringan gunungan hasil bumi ini terpecah menuju tiga lokasi perayaan grebeg syawal yaitu di halaman Masjid Gede, Puro Pakualaman dan Kantor Kepatihan Yogyakarta.

2. Grebeg Syawal Kraton Solo

Grebeg Syawal Keraton Solo biasanya digelar dengan membawa 2 gunungan berisi hasil bumi dan jajanan pasar. Kedua gunungan tersebut disebut gunungan jaler (laki-laki) dan setri (perempuan) Gunungan dibawa dari kraton menuju Masjid Agung Surakarta. .

Gunungan jaler dibawa ke Masjid Agung Surakarta, sedangkan gunungan setri dibawa ke Keraton Solo untuk diperebutkan. Grebeg Syawal Keraton Solo merupakan simbol bahwa kehidupan manusia tak pernah lepas dari menyatunya antara laki-laki dan perempuan.

3. Tradisi Bancaan Kampung Singaraja

Warga Kampung Jawa di Singaraja, Bali, memiliki tradisi bancaan sebagai perayaan Idul Fitri. Tradisi bancaan atau makan bersama telah digelar sejak ratusan tahun lalu. Dulunya tradisi ini menjadi perekat silahturahim antar-warga Kampung Jawa dan Kerajaan Buleleng.

Bancaan ini biasanya dilakukan setelah selsai menunaikan Shalat Ied. Tradisi Bancaan merupakan simbol antar-umat beragama yang saling menghormati. Tradisi ini kemudian dilestarikan masyarakat sekitar sebagai warisan budaya yang arif.

4. Barong Ider Bumi Banyuwangi

Di Desa Kemiren, Kecamatam Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur setiap tanggal 2 Syawal atau lebaran hari kedua, masyarakat menggelar ritual tolak bala bernama Barong Ider Bumi yang sudah dilakukan turun-turun sejak ratusan tahun lalu.

Pemilihan tanggal 2 Syawal lantaran dua merupakan simbol dari ciptaan Tuhan yang berpasang-pasangan, seperti laki-laki dan perempuan, ada siang ada malam, dan ada langit yang jumlahnya dua.

Saat perayaan, masyarakat lokal akan mengarak figur mitologi Bali dan Jawa yang biasa dikenal dengan nama Barong, yang bertujuan untuk mengusir bencana atau menolak bala sehingga masyarakat bisa hidup aman.

5. Syawalan di Makam Kiai Guru Kaliwungu, Kendal

Syawalan di Kaliwungu Kendal, dilakukan di makam salah satu penyebar agama Islam di Kendal, Kiai Asyari atau Kiai Guru. Tradisi Syawalan digelar seminggu setelah lebaran. Tujuan merayakan Syawalan ini adalah untuk mendoakan para ulama yang dulu telah menyebarkan agama Islam di wilayah Kendal.

6. Tradisi Terater di Madura

Tradisi Terater ini bertepatan dengan moment lebaran ketupat yang dilakukan oleh masyarakat Madura. Tradisi tersebut dilaksanakan setiap tanggal 8 syawal dengan perhitungan masyarakat Muslim selesai melaksanakan puasa syawal pada tanggal tersebut.

Setelah shalat subuh, menu berupa ketupat dan opor ayam atau ayam goreng terlebih dahulu dibawa ke imam masjid atau mushala setempat. Setelah makanan terkumpul, para warga yang biasa shalat berjamaah di masjid atau mushala berkumpul dan menggelar doa bersama. Setelahnya baru ketupat tersebut dibagi-bagikan.

Tradisi Terater terus dipelihara untuk mempererat tali persaudaraan antar-Muslim setelah selesai berpuasa Syawal selama enam hari. Ritual ini sekaligus sebagai tanda syukur kepada Tuhan karena diberikan kemampuan melanjutkan puasa sunah selama enam hari setelah puasa wajib Ramadhan.

 

Lopis raksasa

7. Tradisi Lopis Raksasa Pekalongan

Tradisi Syawalan juga dilakukan masyarakat Kota Pekalongan khususnya masyarakat Daerah Krapyak di bagian utara Kota Pekalongan. Tradisi ini dilaksanakan pada setiap tanggal 8 Syawal sesudah Hari Raya Idul Fitri.

Hal paling menarik dalam pelaksanaan tradisi ini adalah dibuatnya Lopis Raksasa yang ukurannya mencapai tinggi 2 meter diameter 1,5 meter dan beratnya bisa mencapai 1.000 Kg lebih atau 1 ton.

Setelah acara do’a bersama, Lopis Raksasa kemudian dipotong oleh Walikota Pekalongan dan dibagi-bagikan kepada para pengunjung. Masyarakat yang hadir biasanya berebut untuk mendapatkan Lopis tersebut yang maksudnya untuk mendapat berkah.

Adapun filosofi pembuatan Lopis diidentikkan dengan sifat Lopis yang lengket. Hal ini dimaksudkan untuk mempererat tali silahturahmi antar masyarakat Krapyak dan dengan masyarakat daerah sekitarnya.

Tradisi Syawalan yang rutin dilakukan oleh masyarakat Kota Pekalongan ini sudah dimulai sejak 130-an tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1855 M. Kali pertama yang mengelar hajatan Syawalan ini adalah KH. Abdullah Sirodj yang merupakan keturunan dari Kyai Bahu Rekso.

Achmad Zaenul Mustofa, Panitia Syawalan di Krapyak Gang 8 menambahkan, warga sangat antusias menyiapkan lopis raksasa.

Karena selama dua tahun terakhir tidak ada penyelenggaraan syawalan dengan pemotongan lopis raksasa akibat pandemi Covid-19.

“Setelah dua tahun libur, akhirnya pada tahun ini Pemkot Pekalongan mengizinkan penyelenggaraan syawalan di Krapyak. Kami sangat bersyukur. Dan yang membuat kami lebih bersemangat lagi, kami disediakan tempat baru,” paparnya.

Inti dari semua tradisi tersebut mengajarkan manusia untuk selalu bersyukur dalam menjalani hidup, mempererat tali silaturahmi dan semakin meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah Swt.

Semoga bermanfaat.

0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in