Serangan Brutal, Jenderal Ukraina: Rusia Gunakan Rudal Lama Era Soviet

Nusantaratv.com - 02/07/2022 09:01

Brigadir Jenderal Angkatan Bersenjata Ukraina, Oleksii Hromov menyebut Rusia menggunakan rudal era Uni Soviet yang tidak akurat untuk sebagian besar serangannya di Ukraina. (Foto: Ilustrasi/EPA)
Brigadir Jenderal Angkatan Bersenjata Ukraina, Oleksii Hromov menyebut Rusia menggunakan rudal era Uni Soviet yang tidak akurat untuk sebagian besar serangannya di Ukraina. (Foto: Ilustrasi/EPA)

Penulis: Tri Budi Purnomo | Editor: Adiantoro

Nusantaratv.com - Rusia menggunakan rudal lama era Soviet untuk menyerang Ukraina secara brutal. 

Seorang Jenderal Ukraina mengatakan Rusia menggunakan rudal yang tidak akurat dari stok lama Soviet untuk sebagian besar serangannya di Ukraina. 

Dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (2/7/2022), rudal Rusia telah mencapai berbagai sasaran di Ukraina dalam beberapa hari terakhir, termasuk menewaskan sedikitnya 18 orang di sebuah pusat perbelanjaan di pusat kota Kremenchuk.

Brigadir Jenderal Angkatan Bersenjata Ukraina, Oleksii Hromov dalam konferensi pers pada Kamis (30/6/2022) mengatakan, Rusia berusaha untuk menyerang militer dan infrastruktur penting. Namun penggunaan rudal era Soviet lama yang kurang akurat menyebabkan hilangnya nyawa warga sipil yang signifikan.

Brigadir Jenderal itu mengatakan 202 rudal telah ditembakkan ke Ukraina pada paruh kedua Juni, meningkat 120 dari paruh pertama bulan itu. Dia memperkirakan bahwa 68 situs sipil telah terkena pada paruh kedua bulan ini.

Analisisnya menyimpang dari beberapa politisi Ukraina yang menuduh Rusia sengaja menyerang warga sipil untuk menabur kepanikan. "Target musuh tetap fasilitas militer, infrastruktur dan industri penting, jaringan transportasi. Pada saat yang sama, penduduk sipil menderita kerugian yang signifikan karena serangan (yang tidak tepat sasaran)," kata Hromov.

"Untuk melakukan serangan roket, musuh di lebih dari 50 persen (kasus) menggunakan rudal dari cadangan Soviet, yang tidak cukup tepat. Akibatnya, gedung-gedung sipil dihantam," lanjutnya.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut serangan terhadap pusat perbelanjaan Kremenchuk pada awal pekan ini sebagai serangan 'teroris' yang disengaja dan para pemimpin Barat serta Paus Fransiskus bergabung dengannya untuk mengutuknya.

Rusia, yang menginvasi Ukraina pada 24 Februari, membantah menargetkan warga sipil dan mengatakan hanya menyerang infrastruktur militer. Awal bulan ini, Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan pesawat pembom Rusia kemungkinan telah meluncurkan lusinan rudal anti-kapal era 1960-an yang berat terhadap sasaran di darat di Ukraina.

"Rusia kemungkinan terpaksa menggunakan rudal anti-kapal berbobot 5,5 ton karena kekurangan rudal modern yang lebih presisi," kata kementerian Inggris.

Menurut Kementerian Inggris, Rudal Kh-22 terutama dirancang untuk menghancurkan kapal induk menggunakan hulu ledak nuklir. Ketika rudal tersebut digunakan untuk menyerang target di darat dengan hulu ledak konvensional, rudal ini sangat tidak akurat dan oleh karena itu dapat menyebabkan kerusakan parah dan korban jiwa.

Rudal Rusia telah menghantam beberapa kota dalam beberapa pekan terakhir, termasuk Kiev, Kharkiv, Dnipro, dan banyak lagi. Pejabat setempat mengatakan banyak dari rudal itu mengenai bangunan sipil seperti gedung apartemen dan sekolah.

"Rudal menghantam blok apartemen dan taman pembibitan di pusat Kiev pada Minggu pagi, menewaskan satu orang dan melukai enam orang," kata pejabat setempat.

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in