NEO 2026 Tekankan Hilirisasi sebagai Pilar Ketahanan Ekonomi Indonesia

NEO 2026 Tekankan Hilirisasi sebagai Pilar Ketahanan Ekonomi Indonesia

Nusantaratv.com - 04 Februari 2026

NEO Sesi 2 dengan Narasumber Heldy Satrya Puter (Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis dan Hariyanto (Kepala Biro Perencanaan Kementerian ESDM RI) (Ntvnews.id)
NEO Sesi 2 dengan Narasumber Heldy Satrya Puter (Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis dan Hariyanto (Kepala Biro Perencanaan Kementerian ESDM RI) (Ntvnews.id)

Penulis: Alamsyah

Nusantaratv.com – Strategi hilirisasi industri kembali ditegaskan pemerintah sebagai motor penguatan ketahanan ekonomi nasional, terutama dalam menghadapi dinamika dan ketidakpastian ekonomi global. Penegasan tersebut mengemuka dalam Sesi 2 Nusantara Economic Outlook (NEO) 2026 yang mengangkat tema “Mengakselerasi Hilirisasi sebagai Fondasi Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global”, yang berlangsung di Nusantara Ballroom, Rabu (4/2/2026).

Diskusi yang dipandu oleh Ellen Gracia ini menghadirkan Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Heldy Satrya Puter serta Kepala Biro Perencanaan Kementerian ESDM RI, Hariyanto. Keduanya membahas peran hilirisasi dalam membangun struktur ekonomi nasional yang lebih kuat dan berdaya saing.

Heldy menjelaskan bahwa kebijakan hilirisasi tidak hanya berfokus pada peningkatan nilai tambah komoditas, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang inklusif. Ia menilai optimalisasi potensi sumber daya alam Indonesia—mulai dari sektor mineral, perkebunan, kehutanan, hingga kelautan—menjadi kunci dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Baca Juga: NEO 2026: Airlangga Paparkan Langkah Pemerintah Perkuat Ekonomi di Tengah Gejolak Global

“Hilirisasi bukan sekadar soal nilai tambah, tetapi bagaimana menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional,” ujar Heldy.

Ia menambahkan, pengolahan komoditas strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, serta kelapa sawit dan hasil perkebunan lainnya menjadi produk antara maupun produk akhir dinilai mampu memperkokoh struktur industri domestik sekaligus menekan ketergantungan pada ekspor bahan mentah.

Sementara itu, Hariyanto menyoroti kontribusi hilirisasi terhadap penguatan ketahanan energi, khususnya melalui pengembangan industri kendaraan listrik nasional. Menurutnya, proses hilirisasi nikel hingga menjadi baterai kendaraan listrik merupakan langkah penting untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak serta menyiapkan fondasi industri energi masa depan.

“Hilirisasi mineral tidak berhenti di kendaraan listrik, tetapi juga mendukung kebutuhan baterai untuk penyimpanan energi dan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan,” jelas Hariyanto.

Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah memberikan berbagai insentif bagi industri yang berkomitmen membangun fasilitas produksi di dalam negeri. Namun demikian, insentif tersebut disertai pengawasan ketat, terutama terkait realisasi investasi dan alih teknologi. Hilirisasi juga diarahkan untuk mendukung pembangunan pembangkit listrik ramah lingkungan dan infrastruktur transmisi listrik yang membutuhkan pasokan material dari industri pengolahan mineral nasional.

Dalam forum tersebut, para narasumber sepakat bahwa keberhasilan hilirisasi memerlukan ekosistem yang terintegrasi, mencakup sinergi antara investasi, teknologi, sumber daya manusia, serta kebijakan yang berkelanjutan. Penguatan program vokasi dan peningkatan kualitas tenaga kerja dinilai krusial agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga mampu menguasai teknologi industri strategis.

Melalui percepatan agenda hilirisasi, pemerintah berharap perekonomian nasional semakin tangguh dan tidak lagi bertumpu pada ekspor komoditas mentah, melainkan pada industri bernilai tambah tinggi yang berkelanjutan.

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close