MLS Belajar Kepemimpinan di MPR, HNW: Pemimpin Harus Efektif sebagai Pemimpin (Imam) dan Mencintai Bangsa dan Negaranya

Nusantaratv.com - 25/01/2023 10:35

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid/Dok MPR
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid/Dok MPR

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com - Sebanyak 75 siswa dari Mardani Leadership School (MLS) pada Selasa 24 Januari 2023 memenuhi Ruang GBHN, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta. Kedatangan para pelajar generasi muda yang didampingi oleh Ketua Yayasan MLS Dr. Mardani  Ali Sera, Kepala Sekolah MLS Luthfi Alfan Kamil, serta beberapa guru ke komplek parlemen untuk melakukan study tour tentang kepemimpinan.

Kehadiran mereka diterima langsung oleh Wakil Ketua MPR Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid MA (HNW). 

"Selamat datang di Komplek Gedung MPR/DPR/DPD. Tempat para pimpinan dan wakil Rakyat melaksanakan amanat kepemimpinannya," ucap Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu. 

Disampaikan kepada para siswa dan guru bahwa mereka saat ini berada di ruangan yang disebut dengan Ruang GBHN.

Meski GBHN sekarang sudah tidak ada lagi namun menurut pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu ruangan yang ada masih digunakan untuk rapat-rapat gabungan Pimpinan MPR dengan fraksi dan kelompok utusan daerah di MPR dan alat kelengkapan lainnya. 

"Serta untuk menerima delegasi dari luar MPR, seperti MLS ini," paparnya.

HNW mengatakan mungkin di antara siswa dan guru ada yang kali pertama datang ke komplek parlemen. Ia mengapresiasi para siswa yang bersemangat untuk belajar tentang leadership atau kepemimpinan di gedung parlemen. 

"Sungguh bagus belajar di luar sekolah. Memang demikianlah seharusnya, generasi muda apalagi yang ingin lanjutkan kepemimpinan bangsa, harus kerap belajar di luar sekolah, untuk mengkaji dan mengambil pelajaran dinamika kehidupan riil, yang tidak didapat di sekolah," ucapnya. 

"Dengan demikian maka belajar di sekolah tidak menjadi menara gading, yang membuat peserta didik yang calon pemimpin malah tidak nyambung dengan yang akan dipimpinnya kelak," tambahnya.  

Pergi ke suatu tempat, luar sekolah, menurutnya akan membuat kita mengetahui lingkungan yang lain. Mengetahui lingkungan yang lain merupakan sarana belajar menjadi pemimpin yang efektif dan benar. 

"Sehingga lulusan MLS akhlaknya makin teruji, skill kewirausahaannya terasah, dan logika literasinya akan semakin kuat," paparnya.

Dengan mengenal lingkungan luar maka akan membuat siswa terbiasa bertemu dengan beragam sosok orang dan masyarakat. Di Indonesia, pemimpin menurut Wakil Ketua Badan Wakaf Pondok Gontor itu akan memimpin bukan hanya satu jenis atau golongan saja namun beragam kelompok masyarakat. 

"Sebagai pemimpin nanti kalian akan memimpin masyarakat bukan memimpin bebek atau kambing," tegasnya. 

"Memimpin bebek dan kambing perilakunya sejenis, lebih mudah sebab dua hewan tersebut tinggal ikut perintah saja," tambahnya.

Dijelaskan, dalam Islam banyak teori tentang kepemimpinan. Pemimpin itu seperti imam dalam sholat. Sebagai imam, ia harus efektif dan tahu kondisinya para yang dipimpinnya yaitu makmum. Makmum itu beragam ada yang tua, muda, laki-laki dan perempuan, serta mempunyai banyak kepentingan. 

"Maka kalau jadi imam harus memperhatikan kondisi makmum," tegasnya. 

"Jangan semau gue," tambahnya. 

Dijelaskan oleh pria yang pernah tinggal selama 13 tahun di Arab Saudi itu bahwa Rasulullah pernah menegur seorang imam yang bacaan sholatnya berkepanjangan sehingga meresahkan salah satu makmum. 

Agar menjadi imam yang bagus menurut HNW, maka penting sang imam sudah terbiasa menjadi makmum. Bila seseorang sudah terbiasa menjadi makmum maka ia akan mempunyai sifat empati dan simpatik. 

"Mengerti apa yang harus diperbuat dan diputuskan," paparnya. 

"Ia akan menjadi imam (pemimpin) yang bijak dan benar," tambahnya. 

Dan Rasulullah SAW yang sangat mencintai negeri di mana beliau berada (Mekah atau Madinah), adalah teladan yang tetap relevan sebagai Pemimpin yang sukses di dunia dan akhirat. 

Disimpulkan untuk menjadi pemimpin yang bagus ia harus juga meneladani Rasulullah SAW, dan mempunyai spirit terbiasa dipimpin supaya saat memimpin, memimpinnya penuh dengan kebijakan untuk kemaslahatan, sebagaimana diteladankan oleh RasuluLlah SAW. 

"Pemimpin bukan hanya memimpin dirinya tetapi terkait juga dengan orang yang dipimpin," tuturnya.  

Diingatkan kepada mereka bahwa pemimpin itu juga harus membumi, mencintai bangsa dan negara, serta tempat di mana bumi dipijak langit dijunjung. 

"Pemimpin adalah pihak yang memikirkan kemaslahatan nasib bangsa dan negaranya," ucapnya. 

Dicontohkan pada tahun 1920-an, para pemuda terpelajar Indonesia sudah memikirkan kemerdekaan. Kemerdekaan pada masa itu menghadirkan Indonesia merdeka merupakan mimpi, namun para pemuda terpelajar baik yang ada di Belanda, Timur Tengah, maupun Batavia (Jakarta) mengelola mimpi itu dengan berorgarganisasi. 
"Mulai dari Perhimpunan Indonesia, hingga Sumpah Pemuda Tahun 1928," ungkapnya.

Dalam Sumpah Pemuda dinyatakan tekad bertanah air, berbangsa, dan berbahasa Indonesia. Diungkapkan oleh HNW, di antara organisasi para pemuda yang ber-Kongres II Pemuda itu adalah salah satu kelompok yang berlatar belakang agama Islam, 

"Mereka adalah Jong Islamieten Bond," ujarnya. 

"Jadi Indonesia Merdeka hadir, dipersiapkan oleh generasi muda, calon pemimpin Bangsa, yang  di dalamnya ada keterlibatan pemuda muslim bersama-sama para Pemuda dari berbagai latarbelakang lainnya, yang 20 tahunan berikutnya para pemuda terpelajar ini, memimpin persiapan Indonesia Merdeka dan mempertahankan agar Indonesia tetap merdeka, dan kita semua sekarang ini merasakan berkah dari hasil perjuangan para pemimpin muda itu. Maka sudah seharusnya bila kurikulum maupun kegiatan yang dikembangkan untuk para calon pemimpin juga yang membuat mereka bangga dengan sejarah dan kiprah para pemuda Pemimpin Bangsa," tutupnya.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in