Kepala BGN Sebut Program MBG Putar Uang Rp824 Miliar per Bulan di NTB

Kepala BGN Sebut Program MBG Putar Uang Rp824 Miliar per Bulan di NTB

Nusantaratv.com - 13 Mei 2026

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dikonfirmasi wartawan usai meluncurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) modular yang di bangun PT Krakatau Stell untuk daerah 3T di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) Selasa (12/5/2026). ANTARA/Nur Imansyah. (Antara)
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dikonfirmasi wartawan usai meluncurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) modular yang di bangun PT Krakatau Stell untuk daerah 3T di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) Selasa (12/5/2026). ANTARA/Nur Imansyah. (Antara)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana mengungkapkan perputaran dana dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Nusa Tenggara Barat mencapai Rp824 miliar setiap bulan.

"Alhamdulillah sampai dengan sekarang di NTB sudah ada 824 SPPG yang berdiri. Satu SPPG itu mengelola Rp1 miliar. Itu artinya uang yang beredar di NTB Rp824 miliar per bulan," ujar Dadan saat peluncuran SPPG modular yang dibangun PT Krakatau Steel di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Selasa, 12 Mei 2026.

Ia menjelaskan dari total anggaran Rp1 miliar yang dikelola setiap SPPG, sekitar 70 persen dialokasikan untuk pembelian bahan baku pangan lokal seperti telur, beras, sayuran, buah, ikan, hingga daging. Menurut dia, kondisi tersebut membuka peluang besar bagi petani, peternak, dan nelayan lokal untuk menjadi pemasok utama kebutuhan program MBG.

"Jadi, kehadiran SPPG ini menjadi "offtaker" atau pihak yang terdepan mengambil produk-produk lokal. Termasuk dalam memperkerjakan masyarakat lokal mulai dari ibu-ibu, pemuda/pemudi dan itu dibiayai 20 persen dari uang yang masuk di SPPG, sehingga mereka yang bekerja akan memiliki pendapatan antara Rp2,4 juta sampai Rp3,5 juta. Tinggal kita lihat seperti apa operasionalisasi-nya, karena 10 persen untuk dapur SPPG," kata Dadan Hindayana.

Ia menilai keberadaan SPPG di berbagai daerah mampu mendorong produktivitas ekonomi wilayah karena besarnya kontribusi program MBG terhadap perputaran ekonomi masyarakat.

"Uang yang digunakan untuk MBG ini sudah Rp77 triliun beredar dari Sabang sampai Merauke, termasuk di Lombok Utara, NTB," ujarnya.

Dadan juga mengungkapkan bahwa hingga kini jumlah SPPG yang telah dibangun di seluruh Indonesia mencapai 28.390 unit. Program tersebut disebut telah melayani sekitar 62,1 juta penerima manfaat dari target nasional sebanyak 79–80 juta orang, termasuk sekitar 3 juta penerima manfaat di wilayah 3T atau tertinggal, terdepan, dan terluar.

"Alhamdulillah, meski program ini baru terbentuk 1 tahun 4 bulan sudah melayani 62,1 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Ini program tercepat yang dilakukan di seluruh dunia. Karena Brazil saja untuk 40 juta butuh waktu 11 tahun," terang Kepala BGN, dikutip dari Antara.

Karena besarnya anggaran yang digelontorkan dalam program pemenuhan gizi nasional tersebut, Dadan berharap dukungan dari seluruh pihak, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, terus diperkuat agar program berjalan optimal.

"Kita berharap pemerintah ikut juga mendorong peningkatan pelayanan SPPG dan masyarakat ikut menyukseskan program tersebut," katanya.

Peluncuran SPPG baja modular di Desa Genggelang turut dihadiri Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar, Ketua Satgas MBG Pemerintah Provinsi NTB Fathul Gani, jajaran Forkopimda, serta masyarakat dan siswa penerima manfaat program MBG di Lombok Utara.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close