Kabar Baik! Satgas Covid-19 Sebut Infeksi Varian BA. 4 dan BA.5 Tak Separah Delta dan Omicron

Nusantaratv.com - 17/06/2022 19:00

Petugas sedang melakukan pemeriksaan covid-19/ist
Petugas sedang melakukan pemeriksaan covid-19/ist

Penulis: Andi Faisal | Editor: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Setelah varian Delta dan Omicron kini muncul varian baru Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan siap menghadapi gelombang baru Covid-19.

Menurut Juru Bicara Kementerian Kesehatan Mohammad Syahril munculnya varian omicron baru BA.4 dan BA.5, menjadi penyebab kasus Covid-19 kembali meningkat.

Menyikapi kenaikan Covid-19, Syahril memastikan fasilitas kesehatan sudah cukup siap dalam menghadapi lonjakan kasus Covid-19 varian baru omicron BA.4 dan BA.5 ini. Salah satunya, Kemenkes sudah mengedarkan surat edaran kepada seluruh dinas kesehatan, serta rumah sakit untuk mewaspadai adanya lonjakan kasus kedua varian ini.

"Nah, dari hulu ke hilir sebetulnya sistem kita sudah terbentuk. Jadi kita melakukan long tracing maupun tracing. Kemudian pihak rumah sakit dengan pengalaman 2 tahun ini, kita memiliki kesiapan yang lebih baik, mulai dari SDM, sarana prasarana, alat medis, APBD maupun sistemnya," ujarnya.

Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19 Alexander K Ginting menjelaskan jika varian BA. 4 dan BA.5 tidak memiliki tingkat infeksi separah varian Delta atau Omicron. Bagi mereka yang sudah divaksin 3 kali pun atau booster, tetap bisa terinfeksi dengan gejala ringan.

Karena itu, dia mengimbau agar masyarakat tetap melakukan pencegahan, seperti melakukan vaksinasi lengkap dan booster. Mengingat kedua varian ini, memiki sifat yang mudah menular kepada siapa pun.

"Artinya mereka yang sudah vaksin 3 kali tetap terinfeksi. sehingga dengan adanya subvarian BA.4 dan BA.5 ini hanya menimbulkan gejala ringan, tidak sama dengan waktu delta," jelas Ginting, mengutip okezonecom.

Diketahui, varian Omicron BA.4 dan BA.5 telah mengakibatkan melonjaknya kembali kasus covid-19 di Amerika Serikat, Eropa dan beberapa negara di Asia. Kedua varian yang disebut lebih menular ini telah ditambahkan ke daftar pemantauan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada bulan Maret lalu.

0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in