Bingung Solusi Harga Sawit Jatuh, Petani: Bagaimana Hadapi Krisis Ini?

Nusantaratv.com - 09/05/2022 12:28

Ilustrasi petani sawit. (TrenAsia)
Ilustrasi petani sawit. (TrenAsia)

Penulis: Mochammad Rizki

Nusantaratv.com - Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih mengungkapkan, pemerintah sejauh ini belum memberikan solusi kepada petani kelapa sawit perihal jatuhnya harga tandan buah segar (TBS). Diketahui, harga TBS kelapa sawit amblas gara-gara pelarangan sementara ekspor bahan baku minyak goreng atau crude palm oil (CPO) yang berlaku sejak 28 April 2022.

“Bersamaan dengan itu, tidak ada penjelasan ke kita (petani), bagaimana menghadapi masa krisis ini? (Pemerintah) Cuma mengatakan harus maklum. Mana bisa begitu kan?” ujar Henry, Minggu (8/5/2022). 

Menurut Henry, seharusnya kebijakan pemerintah melarang ekspor CPO turut memperhatikan dampaknya ke petani. Terlebih, hingga kini SPI belum mengetahui kapan larangan sementara ekspor tersebut berakhir.

“'Ya sudahlah, kamu hadapi dulu'. Tidak ada pertimbangan dampak. Tidak ada pemerintah misalnya memanggil kita ada pelarangan ekspor. 'Anda menghadapi begini-begitu', tidak ada,” jelas dia.

Henry membeberkan petani sawit sudah menderita kerugian sebelum larangan ekspor resmi berlaku. Setelah larangan ekspor CPO diumumkan, ungkap dia, harga TBS langsung turun 30-50 persen.

Mengacu data SPI, harga TBS yang semula berkisar Rp3.000 per kilogram anjlok menjadi Rp1.500-1.600 per kilogram. Akibatnya, ia menaksir total kerugian petani anggota SPI mencapai Rp250 miliar pada rentang 23-28 April 2022. Kerugian itu dihitung dengan cakupan luas lahan lebih-kurang 100 ribu hektar.

Harga yang terjun bebas ini, kata Henry turut membuat pendapatan petani berkurang drastis. 

“Terasa tentunya, apalagi sewaktu Lebaran orang (petani) yang (biasanya) dapat harga Rp 3.000 tiba-tiba cuma jadi Rp 1.500-an, kan berkurang harga hampir separuhnya. Bahkan di tempat lain katanya ada yang sempat tidak terjual,” kata dia.

Adapun faktor kerugian lainnya, lanjut Henry adalah persoalan menumpuknya stok TBS. TBS, kata Henry sebaiknya disimpan hanya dalam waktu 24 jam sejak dipanen dari kebun. Apabila melewati rentang waktu itu, petani terpaksa membuang buah segar atau dijadikan sebagai kompos.

“Dia (TBS) enggak bisa, begitu dipanen harus masuk ke pabrik. Harusnya 24 jam, tidak boleh lebih. Maka tidak ada jaminan di pabrik, sawit lebih bagus tidak usah dipanen dulu,” tutur Henry, mengutip Tempo. 

Kementerian Perdagangan (Kemendag) sendiri belum memastikan waktu pencabutan larangan sementara ekspor bahan baku minyak goreng. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Veri Anggrijono menjelaskan pihaknya masih mengamati kondisi harga minyak goreng curah di lapangan.

“Semenjak penetapan larangan sampai dengan saat ini, masih kami amati di lapangannya,” ujar Veri. 

Ia mengklaim sejauh ini harga minyak goreng curah di beberapa provinsi sudah sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), yaitu Rp 14 ribu per liter. Tapi ia tak merinci provinsi mana saja yang dimaksud.

“Kita berdoa saja supaya kondisi ini cepat berlalu dan keran ekspor dibuka kembali,” kata dia.

Diketahui, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 22 Tahun 2022. Regulasi itu tentang larangan sementara ekspor Crude Palm Oil (CPO), Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil, Refined, Bleached, and Deodorized Palm Olein, dan Used Cooking Oil.

Permendag berlaku mulai tanggal 28 April 2022, hingga kebutuhan bahan baku minyak goreng di dalam negeri terpenuhi, serta harga minyak goreng curah di harga Rp 14 ribu per liter. Menurut Lutfi, kebijakan ini atas arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan telah memperhatikan perkembangan keadaan dari hari ke hari.

“Tentu akan ada dampak dari kebijakan ini, namun sekali lagi saya tegaskan bahwa kepentingan rakyat adalah yang paling utama,” tandas Lutfi ketika jumpa pers virtual mengenai larangan ekspor CPO, Kamis (28/4/2022). 

0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in