Analis: Jokowi Tidak Perlu Komentari Isu Kudeta di Partai Demokrat

Urusan Presiden sudah terlalu banyak jangan sampai urusan-urusan strategis terganggu.

Isu kudeta di tubuh Partai Demokrat yang menarik-narik Presiden Joko Widodo dan sejumlah pihak di Istana menjadi topik pembahasan Host Muhammad Irsal bersama narasumber Pakar Komunikasi Politik dari UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto dalam Dialog Nusantara Siang yang disiarkan NusantaraTV, Selasa (2/2/2021). 

Beberapa pihak dari lingkaran yang dekat pemerintahan menantang AHY untuk membuka lima nama yang diduga akan mengkudeta Partai Demokrat. Menurut analisa anda apakah AHY akan melakukan konferensi pers lanjutan terkait hal ini?

Saya sangat tidak yakin nama-nama itu akan dibuka muka publik. Ini gaya khas namanya equivocal communication atau komunikasi yang sengaja dimunculkan tetapi tidak terlalu eksplisit diplomatis dan lebih banyak sebenarnya muatan pesan yang titik tekannya pada issues management. 

Jadi tidak kan pernah kita mendapatkan nama-nama itu dari Pak AHY sendiri. Mungkin jikapun ada nama-nama itu mungkin akan ada di sosial media atau dari second lyernya. Tetapi tidak akan pernah, saya yakin se-yakin-yakinnya tidak akan pernah muncul dari seorang AHY.

Sama seperti dulu Pak SBY menyatakan bahwa ada pihak-pihak yang berupaya menyerangnya. Tetapi tidak pernah disebut namanya. Ini pola yang sama dalam konteks komunikasi berulang meskipun aktornya berbeda. 

Kita tahu AHY terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Namun tidak mungkin seluruhnya pro mungkin ada segelintir, ada faksi-faksi yang tidak sejalan dengan AHY. Pada pertengahan 2020 ada upaya menggugat kepemimpinan AHY. Apakah ini bisa berkaitan dengan salah satu pihak yang berupaya untuk mengkudeta Partai Demokrat?

Sebenarnya pertarungan di Partai Demokrat harus kita tarik jauh ke belakang lagi. Kita bisa lihat pada saat Anas Urbaningrum terpilih dulu sebagai Ketum Partai Demokrat kemudian ada konflik dengan Pak SBY. Itu kan sebenarnya konflik yang cukup signifikan berpengaruh pada eksistensi Partai Demokrat. Ketika akhirnya SBY mentake-over menjadi Ketua Umum banyak orang yang tidak happy. Kemudian proses itu cooling down semua tiarap akibat kuatnya sumber daya politik SBY waktu itu karena masih menjabat sebagai Presiden. Anas terpental, Gede Pasek terpental tetapi banyak struktur DPD di daerah yang sebenarnya masih orang Anas tetapi kemudian akhirnya bersepakat dengan kubu Pak SBY. Jangan dikira konflik itu tidak bisa dihidupkan. 

Apakah AHY tengah menunggu tanggapan dari Presiden Jokowi karena AHY sudah menyurati secara personal kepada Presiden meskipun beberapa orang di lingkaran terdekat Presiden sudah berkomentar. Pentingkah Presiden memberikan tanggapan?

Menurut saya Pak Jokowi tidak perlu mengomentari balik. Urusan Presiden sudah terlalu banyak jangan sampai urusan-urusan strategis terganggu. Biarkan menjadi isu menjadi perbincangan yang tidak menarik-narik Presiden dalam arus konflik yang sifatnya lebih ke internal partai.

Justru kalau Pak Jokowi menanggapi apalagi ingin membikin actian tertentu menurut saya malah tidak elegan. 

Nusantara Siang hadir untuk kebutuhan anda mengenai berita-berita terupdate setiap harinya. Saksikan Nusantara Petang setiap hari Senin - Jumat jam 11.00 WIB hanya di Nusantara TV  

Login dengan
LIVE TV & NETWORK